TVRINews, Yogyakarta
Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah belum mendorong sejumlah pedagang kuliner berbahan baku tepung terigu untuk menaikkan harga jual produknya. Menurunnya daya beli masyarakat menjadi pertimbangan utama para pelaku usaha dalam menentukan harga.
Kenaikan harga berbagai bahan baku, seperti tepung terigu dan ikan yang digunakan untuk membuat aneka camilan gurih maupun pempek, dinilai semakin membebani pedagang karena meningkatkan biaya produksi. Meski demikian, para pedagang masih memilih menahan harga jual agar tidak kehilangan pelanggan.
Salah satu pedagang kuliner di kawasan Lapangan Pemda Sleman, Nurul Fikroh, mengaku belum berani menaikkan harga produk yang dijualnya, termasuk pempek dan berbagai olahan makanan berbahan dasar tepung terigu.
Menurutnya, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada bahan baku utama, tetapi juga pada kebutuhan pendukung usaha, seperti kemasan plastik yang mengalami kenaikan hingga sekitar 50 persen.

(Foto: Pedagang kuliner di kawasan Lapangan Pemda Sleman, Nurul Fikroh)
“Harga bahan baku naik hingga sekitar 30 persen. Namun, kami belum bisa menaikkan harga jual karena melihat daya beli masyarakat yang mulai menurun. Kalau harga dinaikkan, kami khawatir pembeli akan berkurang,” ujar Nurul Fikroh.
Kondisi tersebut membuat para pelaku usaha kuliner harus menyusun berbagai strategi agar tetap bertahan di tengah meningkatnya biaya produksi. Menahan harga jual dinilai menjadi langkah paling realistis untuk menjaga pelanggan dan mempertahankan omzet usaha.
Menjelang musim libur sekolah 2026, para pedagang berharap sektor pariwisata kembali menggeliat dan mampu mendatangkan lebih banyak pengunjung. Dengan meningkatnya aktivitas wisata, pelaku usaha kaki lima berharap penjualan tetap stabil meski dihadapkan pada kenaikan biaya produksi serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.










