TVRINews, Yogyakarta
Gelombang tinggi yang melanda kawasan Pantai Selatan Bantul kembali membawa material pasir hingga menutup aliran muara Sungai Opak. Kondisi tersebut membuat air sungai tidak dapat mengalir ke laut dan meluber ke area persawahan di kawasan Baros, Tirtohargo, Kretek, Bantul.
Tertutupnya muara menyebabkan genangan merendam sejumlah lahan pertanian. Tanaman bawang merah, jagung, kacang-kacangan hingga ubi terdampak banjir. Sebagian tanaman bahkan telah mendekati masa panen.
Kondisi tersebut membuat petani khawatir mengalami kerugian akibat tanaman rusak dan gagal dipanen.
Salah seorang petani bawang merah, Ngadiyo, mengatakan tanaman bawang yang terendam selama beberapa hari berisiko mengalami kerusakan dan tidak dapat dipanen.
“Kalau terendam terus sampai dua atau tiga hari, bawangnya bisa mati. Kalau sudah begitu, tentu tidak bisa dipanen,” ujar Ngadiyo.
Sementara itu, petani ubi memilih mempercepat proses panen untuk menyelamatkan hasil yang masih bisa dimanfaatkan. Padahal, tanaman tersebut sebenarnya baru akan memasuki masa panen dalam beberapa hari ke depan.
Panen lebih awal membuat petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membayar tenaga buruh. Dalam kondisi normal, petani biasanya dapat melakukan panen bersama keluarga maupun kerabat.
Selain meningkatkan biaya produksi, panen sebelum waktunya juga membuat hasil pertanian tidak maksimal.
Petani ubi, Siti Aminah, mengaku terpaksa mencabut tanaman lebih cepat karena khawatir kerusakan semakin parah apabila lahan terus digenangi air.
“Kalau tidak segera dicabut, nanti tanaman semakin rusak karena terus terendam. Jadi terpaksa dipanen lebih awal meskipun sebenarnya belum waktunya,” kata Siti.
Lahan Pertanian Terendam
Ketua Komisi B DPRD DIY Andriana Wulandari menyebut genangan akibat tersumbatnya muara telah berdampak terhadap sekitar 5 hingga 20 hektare lahan pertanian di kawasan tersebut.
Menurut Andriana, kondisi ini membutuhkan penanganan segera agar air yang menggenangi lahan dapat kembali mengalir menuju laut.
Pihaknya mendorong pengerukan atau penyudetan material pasir yang menutup jalur muara. Koordinasi dilakukan bersama Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO), Dinas Pekerjaan Umum, dan Dinas Pertanian.
“Kami ingin membantu petani dengan membuka kembali aliran muara. Kami sudah berkoordinasi dengan BBWSO, Dinas PU, dan Dinas Pertanian agar pengerukan pasir bisa segera dilakukan sehingga air kembali mengalir ke laut,” ujar Andriana.
Dua kawasan yang dinilai rawan terdampak genangan akibat tertutupnya muara berada di sekitar Pengklik Samas dan pesisir Baros. Wilayah tersebut menjadi langganan genangan ketika aliran Sungai Opak menuju laut terhambat material pasir.
Pembukaan kembali muara menjadi salah satu langkah yang selama ini dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut. Namun, penanganan harus dilakukan berulang karena material pasir kembali terbawa gelombang dan menutup jalur air.
Kondisi tersebut membuat petani di sekitar muara berharap penanganan dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan sehingga banjir tidak terus mengancam lahan pertanian dan hasil panen mereka.










