TVRINews, Yogyakarta
Daerah Istimewa Yogyakarta resmi menerapkan Pendidikan Khas Kejogjaan sebagai langkah strategis menghadapi cepatnya arus perubahan dunia. Kebijakan ini menjadi upaya Pemerintah Daerah DIY dalam merekonstruksi paradigma pendidikan agar lebih relevan dengan kebutuhan zaman.
Tantangan dunia pendidikan saat ini dinilai semakin kompleks. Kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi membawa risiko besar apabila tidak diimbangi dengan kematangan karakter. Tanpa kedewasaan nilai, manusia dapat kehilangan arah dan tercerabut dari akar budayanya.
Karena itu, DIY merumuskan Pendidikan Khas Kejogjaan yang memposisikan pendidikan bukan sekadar transfer ilmu di ruang kelas, melainkan proses pembudayaan. Pendidikan dipahami sebagai ruang pertemuan antara pengetahuan, karakter, dan kesadaran hidup. Program ini tidak hanya menjadi kebijakan formal, tetapi digerakkan sebagai sebuah gerakan kebudayaan.
Gerakan tersebut berakar pada falsafah luhur masyarakat Jawa, Hamemayu Hayuning Bawono, yang menjadi pedoman dalam membentuk generasi agar mampu menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan Yang Maha Esa.
Gubernur DIY, Hamengkubuwono X, menegaskan hal itu saat meluncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan di SMA Negeri 6 Yogyakarta. Menurutnya, sistem pendidikan DIY tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik, tetapi harus menghasilkan pribadi yang seimbang, peka terhadap realitas sosial, dan bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.
“Tujuan dari pendidikan ini adalah melahirkan manusia utama, yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara batiniah dan luhur dalam perilaku. Sosok yang menghadirkan ketenteraman bagi sesama sekaligus memiliki jiwa ksatria. Inilah manusia yang kita harapkan tumbuh dari pendidikan Yogyakarta,” ujar Sri Sultan, Selasa, 5 Mei 2026.
Untuk mewujudkan jalmo kang utomo, ruang lingkup pendidikan tidak boleh dibatasi hanya pada sekolah. Pendidikan Khas Kejogjaan menekankan kebangkitan kembali konsep tri sentra pendidikan, yakni sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Di Yogyakarta, sinergi tersebut diperkuat oleh ekosistem kultural khas yang melekat pada hubungan antara kraton, kampus, dan kampung. Ketiga elemen itu menjadi ruang hidup bagi tumbuh dan berkembangnya karakter generasi penerus.
Pendidikan Khas Kejogjaan diharapkan tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi diwujudkan dalam aksi nyata di lapangan, sehingga memberi dampak langsung bagi peserta didik dan masyarakat, bukan sekadar menjadi seremoni.










