TVRINews, Yogyakarta
Inflasi di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada April 2026 tercatat sebesar 0,17 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, seiring turunnya harga sejumlah komoditas pangan pasca momentum Ramadan dan Lebaran.
Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul mencatat, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi. Penurunan harga pada berbagai komoditas pangan justru mendorong terjadinya deflasi pada kelompok tersebut sebesar 0,11 persen.
Deflasi terbesar disumbang oleh daging ayam ras dengan andil minus 0,12 persen. Selain itu, penurunan harga juga terjadi pada cabai rawit, telur ayam ras, serta sayuran hijau seperti sawi, kangkung, dan cabai hijau.
Sebaliknya, penyumbang utama inflasi bulanan berasal dari kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan dengan andil sebesar 0,06 persen. Komoditas yang mendorong inflasi di kelompok ini antara lain telepon seluler dan komputer jinjing (laptop).
Kepala BPS Gunungkidul, Agus Hartanto, menyebut beberapa komoditas pangan masih memberikan andil inflasi meski secara umum harga menurun.
"Minyak goreng memberikan andil 0,03 persen, kemudian buah-buahan juga mengalami kenaikan. Komoditas lain seperti tempe juga memberikan andil sekitar 0,02 persen," ujarnya, Selasa, 5 Mei 2026.
Penurunan permintaan pasca-Lebaran turut memengaruhi turunnya harga sejumlah bahan pangan yang sebelumnya sempat melonjak selama periode hari besar keagamaan.
Secara perbandingan, inflasi Gunungkidul sebesar 0,17 persen tercatat lebih tinggi dibandingkan Kota Yogyakarta yang mengalami deflasi sebesar 0,01 persen pada periode yang sama.
Sementara itu, secara tahunan (year-on-year), inflasi Gunungkidul pada April 2026 berada di angka 2,33 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi Daerah Istimewa Yogyakarta yang mencapai 2,46 persen.










