TVRINews, Bantul
Masa panen cabai musim tanam tahun ini membawa keberuntungan tersendiri bagi para petani penggarap lahan pasir di pesisir Depok, Parangtritis, Kretek, Bantul. Para petani mendapatkan kepastian harga jual yang lebih tinggi dan menguntungkan setelah adanya inovasi pemasaran baru berupa sistem lelang cabai digital. Inovasi tersebut difasilitasi Bank Indonesia melalui Program Pengembangan Ekonomi Daerah 2026.
Pelaksanaan lelang cabai digital dibuka bagi seluruh anggota Kelompok Tani Bekti Pertiwi, Depok, Parangtritis, Kretek, Bantul. Sistem ini bertujuan membantu petani mendapatkan kepastian harga yang lebih tinggi atau harga terbaik berdasarkan hasil pelelangan yang dilakukan secara daring.
Selain itu, sistem tersebut memudahkan petani menjual hasil panen cabai kepada lebih banyak pedagang besar sekaligus membantu menjaga stabilitas harga cabai.
Melalui inovasi lelang cabai digital, pembeli atau pedagang besar tidak perlu lagi datang ke tempat pelelangan. Mereka cukup memantau dan mengikuti proses pelelangan melalui aplikasi daring yang telah disiapkan. Hasil lelang dengan penawaran harga tertinggi menjadi patokan harga jual cabai bagi para petani, sehingga posisi tawar petani menjadi lebih kuat dalam menentukan harga.
Secara resmi, tempat pelelangan cabai digital Kelompok Tani Bekti Pertiwi dibuka oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DIY, Sri Darmadi Sudibyo, bersama Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, dan jajaran Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul.
Sejumlah fasilitas pendukung diberikan untuk menunjang kelancaran sistem lelang cabai berbasis teknologi digital tersebut. Fasilitas itu di antaranya alat timbangan manual dan digital, perangkat pengolah data digital daring, hingga kendaraan angkut hasil panen.
Ketua Kelompok Tani Bekti Pertiwi Depok, Sodik, mengatakan sistem lelang digital membuat posisi petani lebih kuat dalam menentukan harga jual.
“Jadi, kalau dulu dengan pengepul itu dibeli semau pengepul, tetapi sekarang pengepul juga berpikir. Mereka beli, berani sama dengan pasar lelang,” ujar Sodik, dikutip Kamis, 01 Oktober 2026.
Sementara itu, Sujiya, tim lelang, berharap penerapan sistem tersebut dapat menjaga harga cabai tetap stabil sehingga menguntungkan petani tanpa membebani konsumen.
“Dengan adanya lelang ini, nanti ke depannya harga tetap stabil, tidak murah banget, tidak mahal banget, jadi petani juga untung, di masyarakat juga tidak terlalu terbebani kemahalan,” katanya.
Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, mengatakan sistem lelang digital tersebut berpotensi diterapkan pada komoditas pertanian lainnya.
“Nanti bawang merah juga bisa, dan hasil pertanian yang lainnya seperti melon juga bisa, sehingga ini inovasi yang sangat luar biasa dari kelompok tani yang ada di Kabupaten Bantul,” ujar Aris Suharyanta.
Aris Suharyanta berharap ke depan seluruh kelompok tani di Kabupaten Bantul dapat memanfaatkan sistem pemasaran berbasis digital.
“Kami berharap ke depannya seluruh kelompok tani yang ada di Kabupaten Bantul juga menggunakan pemasaran dengan digital,” katanya.
Lahan pertanian di Parangtritis seluas sekitar 400 hektare dinilai potensial menjadi kawasan penghasil komoditas cabai terbesar di Kabupaten Bantul. Karena itu, diperlukan sistem pemasaran yang baik untuk mendukung hasil produksi petani. Komoditas cabai yang dihasilkan meliputi cabai merah keriting, cabai merah besar, cabai hijau besar, dan cabai rawit.
Dalam sambutannya, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menyampaikan bahwa sistem lelang cabai berbasis digital di kelompok tani dapat memberikan dampak positif, yakni memotong rantai distribusi yang tidak efisien serta menciptakan transparansi harga.
Diharapkan, klaster cabai yang dilakukan di Kelompok Tani Bekti Pertiwi, Depok, Parangtritis, dapat menjadi model pengembangan bisnis berbasis ekosistem yang kontributif dan berkelanjutan.










