TVRINews, Yogyakarta
Erupsi Gunung Anak Krakatau yang sempat mengganggu penerbangan dari dan menuju Jakarta turut berdampak pada mobilitas wisatawan ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Gangguan perjalanan yang terjadi bertepatan dengan akhir pekan tersebut memengaruhi rencana perjalanan wisatawan, termasuk tingkat hunian hotel di Yogyakarta.
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sempat mengganggu operasional Bandara Soekarno-Hatta. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah penerbangan dibatalkan maupun dijadwalkan ulang.

Gangguan penerbangan terjadi saat banyak masyarakat telah merencanakan perjalanan wisata maupun perjalanan kembali dari Yogyakarta. Sebagai alternatif transportasi, KAI Daop 6 Yogyakarta menambah perjalanan kereta api menuju Jakarta untuk mengakomodasi meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi darat.
Namun, tambahan perjalanan kereta api tersebut belum sepenuhnya dapat menggantikan mobilitas masyarakat melalui jalur udara.
Dampak gangguan transportasi juga dirasakan sektor pariwisata dan perhotelan di Yogyakarta. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mencatat adanya wisatawan yang menunda maupun membatalkan perjalanan akibat terganggunya penerbangan.
Tingkat okupansi hotel hingga 7 September 2026 juga dilaporkan mengalami penurunan, dengan kisaran 5 hingga 25 persen.
Di sisi lain, wisatawan yang sudah berada di Yogyakarta harus menyesuaikan rencana perjalanan mereka. Sebagian memilih menggunakan moda transportasi darat, sementara lainnya memperpanjang masa tinggal karena belum dapat kembali sesuai jadwal penerbangan.
Gangguan mobilitas akibat erupsi Gunung Anak Krakatau tersebut turut memengaruhi pola kunjungan wisatawan serta tingkat hunian hotel di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi ini menjadi perhatian pelaku pariwisata, terutama di tengah momentum akhir pekan yang biasanya menjadi salah satu periode meningkatnya kunjungan wisatawan.










