TVRINews, Yogyakarta
Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar Jagad menegaskan komitmennya melibatkan generasi muda dalam pelestarian budaya batik pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 yang bertema “Menyapa Sekolah, Bangga Berbatik.” Kaum milenial dan Gen Z dinilai menjadi elemen penting yang mampu menjembatani warisan adiluhung dengan gaya hidup modern melalui inovasi fesyen.
Ketua PPBI Sekar Jagad, GBPH Prabukusumo, mengatakan bahwa sekolah-sekolah kini mulai menjadikan ruang pendidikan sebagai laboratorium batik. Ia mengapresiasi upaya sekolah yang mendorong siswa membuat batik mereka sendiri hingga memakainya sebagai seragam.
“Ini bentuk pelestarian sejati karena ada regenerasi. Anak-anak muda memegang canting, membaui malam, kemudian membatik. Ini yang sangat saya apresiasi,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Di Yogyakarta, berbagai sekolah sudah mengintegrasikan batik dalam kegiatan belajar. Mulai dari penggunaan seragam batik, kegiatan ekstrakurikuler dan lokakarya membatik, pameran karya siswa, hingga memasukkan batik ke dalam kurikulum seni.
Ellis, siswa Olifant School, mengatakan dirinya dan teman-teman sangat antusias mengikuti program membatik di sekolah.
“Batik itu sangat beragam. Kami tertarik ikut melestarikan batik lewat kegiatan membatik di sekolah. Hasilnya ada yang dijual dan dipamerkan,” ujarnya.
Sementara siswa SMP Stella Duce Vanesa, Vanya, dan Serra mengaku bangga mengenakan batik hasil karya mereka sendiri.
“Program pembuatan batik sudah berjalan dan digunakan setiap hari Jumat. Kami bangga memakai batik buatan sendiri,” ungkap mereka.
Melalui program “Menyapa Sekolah,” PPBI Sekar Jagad berharap generasi muda dapat memahami filosofi, nilai budaya, serta proses pembuatan batik asli. Pendekatan ini diyakini dapat memastikan batik tetap digemari lintas zaman dan menjadi warisan budaya yang terus hidup.










