TVRINews, Yogyakarta
Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H yang jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026 serta Tahun Baru Jawa 1 Suro 1960 Be pada Rabu, 17 Juni 2026, Kadipaten Pakualaman kembali menggelar tradisi sakral Lampah Ratri Mubeng Beteng.
Tradisi yang dikenal sebagai laku bisu ini merupakan prosesi berjalan kaki tanpa alas dan tanpa berbicara mengelilingi kawasan Pura Pakualaman sebagai bentuk refleksi diri dan permohonan keselamatan.
Prosesi dimulai menjelang tengah malam setelah doa bersama. Kegiatan ini secara resmi dilepas oleh Gusti Pangeran Haryo Indro Kusumo bersama Bendoro Pangeran Haryo Kusumo Bimantoro.
Para sentana dalem serta abdi dalem mengenakan busana adat Jawa berupa surjan atau pranakan khas Yogyakarta bernuansa hitam lengkap dengan samir, serta berjalan tanpa alas kaki sebagai simbol kesederhanaan dan kerendahan hati.
Rombongan kemudian bergerak dari pintu barat Pura Pakualaman dan diikuti ratusan warga yang turut serta dalam ritual tahunan tersebut. Rute perjalanan melintasi sejumlah ruas jalan utama di Yogyakarta, di antaranya Jalan Sultan Agung, Jalan Bintaran, Jalan Taman Siswa, Jalan Bausasran, dan Jagalan, dengan total jarak sekitar enam kilometer, sebelum kembali ke titik awal.
Bendoro Pangeran Haryo Kusumo Bimantoro menjelaskan bahwa Lampah Ratri merupakan laku spiritual yang dilakukan dalam keheningan namun tetap diisi dengan doa dan dzikir batin.
“Pada malam ini kita melaksanakan Lampah Ratri, yaitu berjalan tanpa suara, tetapi tetap membatin, berdzikir, dan berdoa. Ini sebagai wujud syukur atas datangnya Tahun Baru Jawa 1960 Be,” ujarnya.
Ia menambahkan, tradisi ini juga menjadi sarana refleksi untuk mensyukuri kesehatan, kekuatan, dan kehidupan, sekaligus memohon agar tahun mendatang diberikan kelancaran, perlindungan, dan keberkahan.
Usai prosesi, para peserta disuguhi jenang manggul, hidangan khas malam 1 Suro atau 1 Muharram yang terdiri dari bubur beras putih, telur dadar, abon, bergedel, dan sambal krecek. Hidangan tersebut dimaknai sebagai simbol rasa syukur sekaligus doa tolak bala.
Perayaan malam Suro juga dilengkapi dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Regol Wiwara Kusuma, depan pintu masuk Pura Pakualaman. Pertunjukan ini menghadirkan dalang Ki Margiyuno dengan lakon Abiyasa Lahir, yang mengandung pesan tentang kepemimpinan ideal yang harus memiliki keseimbangan antara kekuatan batin, ilmu pengetahuan, dan pengendalian diri.










