TVRINews, Yogyakarta
Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Australian Catholic University (ACU) memperkuat kolaborasi akademik internasional melalui UGM–ACU Human Flourishing Dialogue dan Indonesia–Australia AI Roundtable di Balai Senat UGM, Yogyakarta. Forum diplomasi akademik ini digelar sebagai langkah pembentukan Human Flourishing Center yang memadukan sektor pendidikan, kebijakan publik, dan teknologi inklusif.
Forum tersebut mempertemukan perspektif akademisi, pemerintah, serta pelaku industri untuk merumuskan tata kelola kecerdasan artifisial (AI) yang beretika dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.
Rektor UGM Prof. Dr. Ova Emilia, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan kerja sama yang telah digagas pada April lalu.
“Ini sebetulnya merupakan diskusi lanjutan dari apa yang telah kita lakukan bulan April pada waktu kita membuat kerja sama antara UGM dengan ACU. Jadi, kegiatannya terkait dengan pengembangan human flourishing, makna dari manusia, kemanusiaan secara utuh. Ini perlu kita maknai dalam bentuk perubahan zaman sehingga nanti juga terkait dengan pengembangan pendidikan, penelitian, dan bagaimana kita melakukan pengabdian di masyarakat,” ujar Ova Emilia.
Dalam sesi Indonesia–Australia AI Roundtable, UGM dan ACU mendiskusikan peluang, risiko, serta tata kelola adopsi teknologi digital. Kedua institusi mendorong agar inovasi AI tidak sekadar menitikberatkan pada efisiensi teknis, melainkan wajib memperhitungkan keselamatan, tanggung jawab moral, dan perlindungan hak asasi manusia.
Vice-Chancellor and President ACU Prof. Zlatko Skrbis menegaskan kemitraan kedua universitas didasari oleh komitmen bersama dalam mendorong pembangunan manusia.
“Ini adalah hubungan yang kuat, tergantung pada kepercayaan dan komitmen yang kami miliki untuk berkontribusi secara tulus pada pembangunan manusia. Ini merupakan kunjungan kedua saya ke Yogyakarta tahun ini. Pada bulan April, kami telah membahas pusat Indonesia–Australia untuk pembangunan manusia, dan ini merupakan bagian dari dialog yang terus berjalan,” ujar Zlatko Skrbis.
Melalui kerja sama ini, UGM dan ACU berkomitmen menjadikan nilai kemanusiaan sebagai landasan utama pemanfaatan kecerdasan artifisial di tingkat global.
Kolaborasi antarpeneliti dan pembuat kebijakan dari Indonesia dan Australia tersebut diharapkan mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi digital secara inklusif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.










