TVRINews, Yogyakarta
Mengeringnya sumber mata air serta matinya jaringan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) membuat sejumlah warga di Perbukitan Menoreh, tepatnya di Pedukuhan Papak, Kalurahan Kalirejo, Kapanewon Kokap, Kulon Progo, kesulitan mendapatkan air bersih.
Sudah sejak beberapa minggu terakhir, debit air di sumur warga terus mengalami penurunan. Kondisi tersebut membuat warga harus menunggu dua hingga empat hari untuk mendapatkan air sumur.
Warga terpaksa mencari sumber air di wilayah lain dengan berjalan cukup jauh karena air yang tersedia tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut semakin parah karena pasokan air dari jaringan Pamsimas tak lagi mampu menjangkau permukiman warga.
Warga pun harus mengandalkan bantuan air bersih yang disalurkan petugas setiap beberapa minggu sekali.
Warga membuat tempat penampungan air sementara menggunakan terpal untuk menampung bantuan air bersih tersebut. Saat tempat penampungan mulai kering, warga akan menghubungi petugas untuk meminta bantuan pasokan air.
Menurut warga, krisis air seperti ini hampir selalu terjadi setiap musim kemarau panjang.
Di Pedukuhan Papak, sedikitnya terdapat puluhan kepala keluarga yang terdampak kekeringan dan krisis air bersih. Mereka tersebar di tiga RW dan 10 RT.
Salah seorang warga, Nova Wahyu Ismadi, mengatakan sumur di wilayahnya masih memiliki air, tetapi warga harus menunggu beberapa hari hingga air kembali tersedia. Sementara itu, sumber air untuk jaringan Pamsimas mulai berkurang sehingga pasokannya tidak lagi menjangkau permukiman.
“Sumur masih ada, tetapi harus menunggu sekitar tiga sampai empat hari baru keluar air. Kalau untuk Pamsimas, permasalahannya itu sumbernya sudah mulai berkurang jadi air tidak sampai di sini,” katanya, Kamis, 3 September 2026.
Sementara itu, Ketua Umum SAR SIGAP Kulon Progo, Sulistyawan, mengatakan bantuan air bersih akan disalurkan kepada warga yang tersebar di tiga RW dan sekitar 10 RT.
“Untuk manfaat air ini nanti akan disalurkan kepada tiga RW, untuk RT-nya kurang lebih 10 RT yang menerima manfaat,” ujarnya.
Sulistyawan menambahkan, kondisi kekeringan di wilayah tersebut telah berlangsung sekitar dua minggu dan permintaan pengiriman air bersih terus berdatangan.
“Kondisi kekeringan ini sudah terjadi kurang lebih dua minggu yang lalu. Kemudian, berangsur-angsur memang ada permintaan pengiriman air untuk di Kalirejo ini,” tambahnya.
Meski tak menyelesaikan persoalan kekeringan secara permanen, bantuan distribusi air bersih menjadi salah satu solusi yang sangat dibutuhkan warga untuk memenuhi kebutuhan air selama musim kemarau.










