TVRINews, Yogyakarta
Bunyi gemeretak biji dakon yang beradu dengan papan plastik bersahut-sahutan dengan riuh sorak sorai anak-anak di sudut Gedung Graha Budaya, Embung Giwangan, Kota Yogyakarta. Di sudut lain, sekelompok anak laki-laki tampak menahan napas dengan pandangan tertuju pada gasing kayu yang berputar lincah di atas lantai.
Tak ada gawai di tangan mereka. Yang terdengar hanyalah tawa, sorakan, dan ketegangan khas anak-anak yang memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer nostalgia di tengah gelaran Apresiasi Pendidikan Jogja 2026.
Bukan sekadar ajang kompetisi, ratusan pelajar dari berbagai sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta berkumpul untuk merayakan kembali akar budaya yang mulai tergerus zaman melalui lomba permainan tradisional. Mulai dari gasing, dakon atau congklak, hingga bekel, seluruh permainan itu menjadi pemandangan kontras yang menyegarkan di tengah derasnya arus digitalisasi.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 yang diinisiasi Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mohammad Adi Hartono menjelaskan keterlibatan pelajar dalam permainan tradisional mengandung esensi penting dari tema besar “Semesta Jogja Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”.
“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan dukungan terhadap implementasi program prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, sekaligus menguatkan literasi, numerasi, dan karakter melalui berbagai program yang dirancang bersama siswa dan sekolah,” ujar Adi Hartono, Jumat, 22 Mei 2026.
Antusiasme para pelajar dalam Apresiasi Pendidikan Jogja 2026 juga mendapat apresiasi dari Atip Latipulhayat yang hadir langsung di Embung Giwangan.
Sebelum menghadiri acara inti, guru besar Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung tersebut turut berbaur bersama peserta mengikuti jalan sehat dan Senam Anak Indonesia Hebat. Atip juga meninjau area lomba permainan tradisional serta pameran pendidikan.
Dalam sambutannya, Atip memuji capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan mutu pendidikan di DIY yang secara konsisten berada di atas rata-rata nasional, termasuk dalam capaian skor Programme for International Student Assessment (PISA).

(Foto: Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum Unpad, Atip Latipulhayat)
“Hal ini membuktikan kebijakan dan pendekatan yang dilakukan Pemerintah DIY bersama para UPT Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di Yogyakarta sudah tepat. Saya berharap capaian ini terus ditingkatkan agar semakin baik ke depannya,” ujar Atip.
Selain menjadi panggung kegembiraan anak-anak melalui dolanan tradisional dan pentas seni seperti pencak silat, tari, hingga menyanyi, momentum tersebut juga menjadi ajang penting bagi masa depan pendidikan di DIY.
Pada kesempatan yang sama, dilakukan pula pemberian penghargaan serta deklarasi komitmen bersama untuk pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun 2026 yang ditargetkan berjalan lebih objektif, transparan, akuntabel, berkeadilan, inklusif, dan tanpa diskriminasi.










