TVRINews, Yogyakarta
Masjid Sulthoni Wotgaleh, menjadi salah satu destinasi wisata religi yang menyimpan nilai sejarah dan spiritual tinggi.
Berdasarkan catatan Babad Diponegoro, kompleks makam yang berada di belakang masjid dibangun oleh Panembahan Purbaya I. Sementara itu, bangunan Masjid Wotgaleh diperkirakan telah berdiri jauh sebelum berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Kuat dugaan, Masjid Sulthoni Wotgaleh merupakan salah satu Masjid Pathok Negoro Senopaten pada masa Kerajaan Mataram Islam di Alas Mentaok, Kotagede. Bahkan, menurut cerita para sesepuh, kawasan Wotgaleh telah mulai dibuka sejak era Kesultanan Demak.
Dosen Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, Yaser Arafat mengatakan, dalam Babad Diponegoro diceritakan bahwa makamnya dibangun oleh Panembahan Purbaya, sedangkan masjidnya sudah ada lebih dahulu. Dalam cerita para sesepuh juga disebutkan bahwa wilayah ini telah dibuka sejak era Demak.
Menurutnya, pengembangan kawasan ini sebagai destinasi wisata religi merupakan langkah positif karena memiliki keterkaitan dengan jalur penyebaran Islam pada masa lalu.
"Dengan dibuka sebagai wisata religi malah bagus, karena memang jejak era Demak tadi banyak yang datang dari utara ke sini, karena dulu sungai opak ini merupakan transportasi perahu selatan, jadi kalau di utara itu laut kalau disini Sungai," kata Yaser, dikutip Rabu, 22 Juli 2026..
Nilai sejarah dan spiritual tersebut membuat Masjid Sulthoni Wotgaleh tidak hanya dikunjungi masyarakat sekitar, tetapi juga peziarah dari berbagai daerah hingga mancanegara. Salah satunya rombongan Majelis Dzikir Masyaikh Sufiah Senusantara asal Malaysia yang datang untuk berzikir sekaligus mempelajari sejarah perkembangan Islam di Nusantara.
Pengasuh Majelis Dzikir Bolo Jiwo, Mas Panewu Ngabdul Hamid, mengatakan kunjungan rombongan dari Malaysia memiliki keterkaitan secara ideologis, amaliah, hingga silsilah keilmuan dengan majelis yang dipimpinnya.
"Terkait kedatangan rombongan dari Malaysia, beliau kebetulan secara ideologis, secara amaliyah, secara ajaran, secara nasabnya nyambung dengan majlis kita," jelas Ngabdul Hamid.
Tingginya antusiasme jamaah yang datang hampir setiap pekan juga membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar. Kehadiran para peziarah turut meningkatkan aktivitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menyediakan berbagai kebutuhan bagi para pengunjung, sehingga memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat potensi wisata religi di kawasan Wotgaleh.










