TVRINews, Yogyakarta
Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memastikan hingga awal Mei 2026 belum ditemukan kasus positif hantavirus di wilayah DIY. Meski demikian, pengawasan dan kewaspadaan tetap diperketat melalui surveilans rutin bersama dinas kesehatan kabupaten dan kota.
Kepala Dinas Kesehatan DIY, Gregorius Anung Trihadi menjelaskan, hantavirus pertama kali terdeteksi di DIY pada 2025 melalui kegiatan surveilans sentinel rutin sebagai bagian dari sistem kewaspadaan dini kesehatan masyarakat.
Pada 2025, tercatat enam kasus positif hantavirus yang tersebar di tiga kabupaten/kota di DIY. Namun seluruh pasien dinyatakan sembuh total tanpa adanya kasus kematian maupun penularan lanjutan kepada orang lain.
Memasuki 2026 hingga saat ini, Dinkes DIY belum menerima laporan kasus positif hantavirus dari hasil pemeriksaan laboratorium melalui surveilans sentinel rutin.
Gregorius mengatakan, perhatian masyarakat terhadap hantavirus meningkat setelah adanya rilis dari Kementerian Kesehatan beberapa waktu lalu. Namun, ia memastikan satu pasien suspek yang sempat dirawat di RSUP Dr. Sardjito dipastikan negatif hantavirus.
"Kemarin kami sudah memastikan bahwa satu suspek yang dirawat di Sardjito itu negatif. Jadi negatif. Sebenarnya ini adalah program surveilans rutin yang dilakukan pada kasus-kasus leptospirosis. Ketika dilakukan pemeriksaan leptospirosis, sekalian diperiksa juga kemungkinan hantavirus karena hewan pembawanya sama, tetapi penyebab dan jenis penyakitnya berbeda, sementara gejalanya mirip," ujar Gregorius, Senin, 11 Mei 2026.
Ia menegaskan, hantavirus di DIY saat ini belum menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Enam kasus yang ditemukan pada 2025 seluruhnya berhasil ditangani dengan baik dan pasien sembuh.
"Jadi masyarakat jangan terlalu panik. Kami tetap melakukan surveilans dan pemantauan. Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat juga penting, termasuk menjaga kebersihan makanan, menutup makanan dengan baik, dan mencuci bersih terutama di area yang banyak tikus," ucapnya.
Meski belum ditemukan kasus baru, Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Kesehatan tetap memperkuat langkah antisipasi. Upaya tersebut meliputi pengawasan aktif di lapangan, sosialisasi dan edukasi penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), serta pengendalian populasi tikus sebagai sumber utama penularan penyakit zoonosis.










