TVRINews, Yogyakarta
Mahalnya harga pupuk non subsidi disiasati petani dengan aplikasi penggunaan pupuk organik, untuk pemupukan tanaman sayuran. Seperti yang dilakukan Kelompok Wanita Tani (KWT) Marsudi Luhur di Padukuhan Kepuh, Kalurahan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tidak hanya mengandalkan pupuk kimia, kelompok beranggota belasan ibu rumah tangga ini juga menambahkan pupuk organik untuk penyubur dan penambah nutrisi tanaman sayuran.

Setahun terakhir Kelompok Wanita Tani (KWT) Marsudi Luhur, rutin membuat pupuk organik cair berbahan utama sampah sayuran rumah tangga dan seresah dedauanan.
Penggunaan pupuk organik cair (POC) terbukti mampu menghemat pengeluaran dan ongkos pemeliharaan.
Dengan menambahkan POC, penggunaan pupuk kimia non subsidi, seperti NPK Mutiara hingga NPK Grower dengan harga mahal yang biasa digunakan untuk tanaman sayuran bisa lebih ditekan.
POC diaplikasikan untuk beragam tanaman sayuran, mulai kacang panjang, kangkung, tomat, sawi hingga cabai. POC terbukti memberi manfaat untuk membantu menunjang pertumbuhan di awal masa tanam sayuran, sehingga penggunaan pupuk kimia non subsidi bisa dikurangi.

Pembuatan POC dikenalkan kalangan akademisi Universitas Negeri Yogyakarta dan kini bisa dibuat secara mandiri oleh KWT.
POC dibuat, dengan metode fermentasi menggunakan bakteri pengurai. Semua bahan limbah sayuran dan buah, sampah dedaunan kering dan sekam, ditampung serta difermentasi dalam beberapa tong plastik.
Pupuk organik, sudah bisa dipanen di kurun waktu relatif singkat, dua hingga empat pekan masa fermentasi.
Ketua KWT Marsudi Luhur, Lusiana Nungki Hapsari, mengatakan keberadaan pupuk organik cair sangat membantu anggotanya mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
"Adanya pupuk ini sangat membantu, mengurangi pembelian pupuk kimia," ujar Lusiana, dikutip Rabu, 29 Juli 2026.
Ia menambahkan, masyarakat juga dilibatkan dengan mengumpulkan sisa sayuran rumah tangga sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik cair.
"Kalau ada sisa sayuran, kami minta ditampung di tempat Pak Dukuh untuk dibuat POC," katanya.
Selain membantu menekan biaya produksi pertanian, pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk cair juga berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Sementara itu, hasil budidaya sayuran KWT Marsudi Luhur telah dipasarkan dan memberikan tambahan pendapatan bagi para anggotanya. Setiap musim panen, hasil sayuran mereka banyak diminati dan dibeli langsung oleh warga, khususnya ibu-ibu di padukuhan setempat.









