TVRINews, Yogyakarta
Kawanan monyet ekor panjang kembali membuat resah petani di Padukuhan Kelor, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul. Ratusan primata tersebut turun dari kawasan perbukitan dan masuk ke area pertanian warga untuk mencari sumber makanan akibat berkurangnya pakan di habitat alami.
Kawanan monyet itu menyerang sejumlah tanaman pertanian milik warga, seperti jagung, singkong, kacang-kacangan, hingga berbagai tanaman hortikultura. Tidak hanya memakan hasil panen, satwa tersebut juga merusak batang dan dahan tanaman sehingga berpotensi menurunkan produktivitas lahan pertanian.
Selain merusak tanaman, kawanan monyet juga kerap menyasar gubuk sederhana milik petani yang digunakan untuk beristirahat maupun menyimpan peralatan pertanian. Sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan akibat monyet yang mencari sisa makanan di sekitar lokasi.
Serangan yang terus berulang membuat petani harus meningkatkan kewaspadaan dengan lebih sering berada di lahan. Berbagai cara telah dilakukan warga untuk mengusir kawanan monyet, mulai dari berteriak, membuat suara gaduh, menggunakan petasan, hingga melakukan penjagaan secara bergantian.
Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya efektif menghentikan kedatangan kawanan monyet ekor panjang ke area pertanian.
Petani setempat, Sukardi, mengatakan gangguan monyet sebenarnya sudah terjadi sejak lama, tetapi intensitasnya meningkat saat musim kemarau karena sumber makanan di kawasan hutan mulai berkurang.
“Serangan kera ini sudah lama terjadi dan sangat meresahkan petani. Tetapi kami juga tidak bisa sembarangan melakukan tindakan karena ada aturan yang harus dipatuhi terkait perlindungan satwa,” ujar Sukardi.
Menurutnya, hampir seluruh tanaman menjadi sasaran serangan, mulai dari kacang, ketela, padi, hingga kedelai. Bahkan, ketika tidak menemukan makanan, kawanan monyet juga merusak fasilitas sederhana milik petani.
“Kalau makanan di ladang sudah tidak ada, gubuk petani juga ikut dirusak dan diobrak-abrik,” katanya.
Sementara itu, Dukuh Kelor, Andri Sukarno, menjelaskan warga telah melakukan berbagai langkah pencegahan untuk mengurangi dampak serangan monyet. Salah satunya dengan memasang jaring di sekitar lahan pertanian serta menerapkan sistem ronda untuk menjaga tanaman.
“Warga sudah berupaya melakukan antisipasi dengan memasang jaring di ladang masing-masing. Selain itu, penjagaan juga dilakukan secara bergiliran agar tanaman bisa terlindungi,” jelas Andri.
Warga berharap ada solusi berkelanjutan dari pihak terkait untuk mengatasi konflik antara manusia dan satwa liar tersebut. Penanganan diharapkan tetap memperhatikan kelestarian monyet ekor panjang, sekaligus melindungi mata pencaharian petani yang bergantung pada hasil pertanian.









