TVRINews, Yogyakarta
Suasana penuh kekeluargaan mewarnai prosesi pelantikan pengurus Himpunan Masyarakat Aceh (HIMA) di Yogyakarta. Pelantikan ini menjadi momentum bagi masyarakat dan perantau asal Aceh untuk memperkuat kebersamaan, sekaligus melanjutkan berbagai program organisasi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kepengurusan baru membawa semangat kebersamaan, persaudaraan, dan musyawarah dalam menjalankan program organisasi.
Prosesi pelantikan yang dipimpin tokoh masyarakat Aceh tersebut berlangsung di Kantor DPD RI Yogyakarta. Pelantikan sekaligus menjadi momentum penyerahan amanah kepada pengurus baru agar mampu menjalankan organisasi secara bertanggung jawab dan mengedepankan kepentingan bersama.
Ke depan, HIMA Aceh Yogyakarta diharapkan tidak hanya menjadi wadah silaturahmi bagi masyarakat dan perantau asal Aceh, tetapi juga mampu memperkuat komunikasi dan membangun kolaborasi dengan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta serta berbagai pemangku kepentingan.
Melalui berbagai program yang dijalankan, Himpunan Masyarakat Aceh di Yogyakarta diharapkan semakin solid dalam menjaga kekompakan dan mempererat persaudaraan di tanah perantauan, sekaligus turut melestarikan nilai-nilai dan budaya Aceh di Yogyakarta.
Mantan Ketua HIMA Aceh Yogyakarta periode 2023–2026, Jamaludin, mengatakan selama masa kepengurusannya, organisasi telah mampu menjalin kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat di Yogyakarta.
“Alhamdulillah, sudah sangat baik. Kita bisa bekerja sama dengan baik dengan semua elemen masyarakat yang ada di Jogja, baik mahasiswa maupun tokoh masyarakat, dan juga paguyuban-paguyuban Aceh yang ada di Jogja,” kata Jamaludin, dikutip Selasa, 15 September 2026.
Sementara itu, Ketua HIMA Aceh Yogyakarta periode 2026–2029, Rusli Albas, mengatakan kepengurusan baru akan memperkuat program-program yang telah berjalan. Jika terdapat program baru, pihaknya akan membahasnya melalui musyawarah bersama pengurus dan warga Aceh di Yogyakarta.
“Tugas kami ke depan ini memperkuat program-program yang sudah ada. Kemudian, insyaallah, kalau ada program baru akan kita musyawarahkan, kita komunikasikan, terutama dengan pengurus dan warganya. Saya melihat penting yang disampaikan ini supaya masyarakat Aceh yang ada di Jogja ini bisa bersatu,” ujarnya.
Usai prosesi pelantikan, kegiatan dilanjutkan dengan tradisi peusijuek. Peusijuek merupakan salah satu tradisi masyarakat Aceh yang mengandung nilai doa, keberkahan, dan harapan baik.
Tradisi ini menjadi simbol dukungan dan doa bagi pengurus baru agar mampu menjalankan amanah dengan baik, diberikan kelancaran dalam menjalankan tugas, serta membawa Himpunan Masyarakat Aceh semakin maju.
Ketua panitia, Salmiah Molek, mengatakan persaudaraan menjadi salah satu nilai penting yang terus dijaga oleh masyarakat Aceh.
“Aceh itu betul-betul yang dipegang itu adalah persaudaraan,” katanya.
Melalui kepengurusan baru periode 2026–2029, Himpunan Masyarakat Aceh di Yogyakarta diharapkan mampu memperkuat kekompakan anggota, sekaligus membangun organisasi yang terbuka dan komunikatif.
Tak hanya menjadi wadah silaturahmi, organisasi ini juga diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan pembangunan, baik di Aceh maupun di Daerah Istimewa Yogyakarta.










