TVRINews, Yogyakarta
Cuaca terik pada musim kemarau mulai dirasakan masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tingginya intensitas sinar matahari sejak pagi hingga siang hari membuat aktivitas di luar ruangan menjadi kurang nyaman.
Kondisi tersebut membuat sejumlah warga memilih membatasi kegiatan di luar rumah. Mereka mulai mengatur ulang jadwal beraktivitas pada pagi atau sore hari saat suhu udara relatif lebih sejuk. Selain terik di siang hari, perbedaan suhu yang cukup ekstrem antara siang dan malam juga turut dirasakan oleh warga.
"Kalau siang panas banget, tetapi kalau malam rasanya dingin sekali. Padahal di rumah tidak pakai AC, tapi tetap terasa sangat dingin," ujar Fani, seorang warga Yogyakarta pada Selasa 28 Juli 2026.
Kondisi cuaca ekstrem ini juga dirasakan oleh kalangan mahasiswa. Guna mengurangi dampak paparan panas berlebih, mereka memilih membawa bekal air minum, menggunakan pelindung diri seperti topi atau payung, serta menghindari aktivitas di luar ruangan saat matahari sedang terik.

"Siang panas, malam dingin sekali. Kadang badan jadi tidak enak karena perbedaan suhu siang dan malam. Saya juga sempat merasa seperti flu," kata Pinkda Lova, seorang mahasiswi.
Menghadapi kondisi cuaca saat ini, masyarakat diimbau untuk terus menjaga kesehatan tubuh selama musim kemarau. Langkah yang dapat dilakukan antara lain memperbanyak konsumsi air putih, mengenakan pakaian yang nyaman, serta menghindari aktivitas berat di bawah terik matahari dalam durasi yang lama.
Upaya pencegahan ini penting dilakukan untuk meminimalkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat paparan panas (heat exhaustion), hingga gangguan kesehatan lainnya yang dipicu oleh cuaca ekstrem.









