TVRINews, Yogyakarta
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan pengembangan teknologi nuklir tetap menjadi salah satu prioritas riset nasional. Meski pemerintah tengah menjalankan efisiensi anggaran, BRIN justru menyiapkan penguatan dukungan anggaran untuk riset dan pembangunan infrastruktur ketenaganukliran pada 2027.
Hal tersebut disampaikan Kepala BRIN Arif Satria usai menghadiri wisuda Sarjana Terapan Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) di Yogyakarta, Kamis, 10 September 2026.
Arif mengatakan pengembangan teknologi nuklir ke depan akan difokuskan pada tiga sektor strategis, yakni kesehatan, pangan, dan energi. Menurutnya, ketiga sektor tersebut memiliki ruang pemanfaatan teknologi nuklir yang luas dan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Yang akan kita lakukan adalah nuklir untuk kesehatan, nuklir untuk pangan, dan nuklir untuk energi. Jadi, tiga bidang inilah yang akan kita garap. Justru dengan ketiga bidang ini, anggaran riset di bidang ketenaganukliran akan kita tingkatkan,” ujar Arif Satria.
Selain memperkuat riset, BRIN juga mendorong penyelesaian pembangunan infrastruktur ketenaganukliran. Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk mendukung pengembangan dan pemanfaatan teknologi nuklir secara lebih optimal pada berbagai sektor.
BRIN menargetkan penguatan infrastruktur ketenaganukliran dapat terus dilakukan hingga 2027. Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, riset di bidang energi, pangan, dan kesehatan diharapkan dapat berkembang lebih cepat sekaligus menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan di masyarakat.
Poltek Nuklir Sesuaikan Kurikulum
Sejalan dengan arah pengembangan teknologi nuklir nasional, Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia juga terus menyesuaikan pendidikan dan kurikulumnya dengan kebutuhan industri serta perkembangan teknologi.
Pelaksana Tugas Direktur Poltek Nuklir Indonesia, Zainal Arief, mengatakan sejumlah bidang peminatan telah dikembangkan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan ketenaganukliran di masa mendatang.
“Pertama terkait dengan energi. Kemudian yang kedua terkait dengan industri untuk analisis dan radiasi. Yang ketiga di bidang kesehatan, yaitu instrumentasi medik nuklir. Kemudian yang keempat terkait dengan akselerator. Yang kelima adalah untuk produksi radiofarmaka, dengan proses bahan bakar nuklir,” kata Zainal.
Menurut Zainal, penguatan kompetensi mahasiswa tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran di ruang kelas. Poltek Nuklir juga menerapkan pembelajaran transformatif yang mendorong mahasiswa mengerjakan proyek secara berkelompok.
Melalui metode tersebut, mahasiswa dilatih untuk membangun kemampuan komunikasi, bekerja sama, sekaligus mencari solusi atas persoalan nyata yang berkaitan dengan bidang teknologi nuklir.
Salah satu proyek yang dikembangkan mahasiswa adalah prototipe alat peraga Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir atau PLTN. Prototipe tersebut nantinya akan dihibahkan kepada Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mendukung kegiatan edukasi masyarakat di Taman Pintar.
“Melalui proyek ini mahasiswa tidak hanya belajar mengenai teori, tetapi juga bagaimana mengembangkan sebuah produk yang dapat dimanfaatkan untuk edukasi masyarakat,” jelas Zainal.
Penguatan riset BRIN dan penyesuaian pendidikan vokasi di Poltek Nuklir diharapkan dapat berjalan beriringan. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya memiliki infrastruktur dan riset ketenaganukliran yang semakin kuat, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu mendukung pengembangan teknologi nuklir untuk kebutuhan energi, pangan, dan kesehatan.










