TVRINews, Yogyakarta
Melalui arsip foto, masyarakat dapat memahami suasana dan kondisi suatu masa yang ditangkap kamera tanpa perlu penuturan narasi panjang. Suasana inilah yang coba dihadirkan dalam Pameran Foto Jogja Tempo Dulu di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta.
Sebanyak 200 arsip foto Kota Yogyakarta dari rentang tahun 1954 hingga era 1990-an dipamerkan di gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta, kawasan Kotabaru. Pameran ini mengajak pengunjung menelusuri wajah Kota Yogyakarta dari masa ke masa melalui berbagai dokumentasi visual.
Sejumlah foto yang ditampilkan memperlihatkan proyek-proyek pembangunan yang bangunan fisiknya masih dapat dijumpai hingga saat ini. Salah satunya adalah dokumentasi pembangunan Pasar Lempuyangan pada 1956 yang memperlihatkan tahap awal konstruksi bangunan.
Selain itu, terdapat foto pembangunan trotoar di kawasan Malioboro pada 1974. Dalam foto tersebut terlihat trotoar yang baru selesai melalui tahap pengecoran semen. Pameran foto ini sekaligus menjadi upaya menghadirkan perpustakaan sebagai ruang publik yang inklusif, dinamis, dan menyenangkan. Masyarakat dapat memperoleh pengetahuan tidak hanya melalui aktivitas membaca, tetapi juga melalui arsip foto yang terawat dan tersimpan dengan baik.
Foto-foto lawas yang dipamerkan juga memperlihatkan suasana Yogyakarta pada masa lalu, seperti kawasan shopping center pada 1978 dengan deretan mikrolet yang terparkir rapi. Ada pula dokumentasi kawasan Pasar Beringharjo pada 1956, serta kawasan ikonik Tugu Pal Putih dan Titik Nol Yogyakarta pada era 1970-an yang memiliki kondisi jauh berbeda dibandingkan saat ini.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta, Afia Rosdiana, mengatakan dokumentasi melalui arsip foto dapat menunjukkan bagaimana pembangunan Kota Yogyakarta terus berlangsung dari waktu ke waktu.
“Itu menunjukkan namanya pembangunan itu berjalan. Tahun 1956 di Malioboro ada apa, tahun 1970 ada apa? Sekarang bisa dilihat, Malioboro banyak sekali perubahannya. Itu menunjukkan bahwa pembangunan tidak mesti berhenti. Satu tahap sudah selesai, tetapi akan diteruskan sampai kapan pun dan akan terus berjalan,” ujar Afia Rosdiana, Selasa, 15 September 2026.
Sementara itu, Bunda Literasi Kota Yogyakarta, Siti Hapsah, menilai arsip perlu disimpan dan dikelola dengan baik agar tetap memberikan manfaat bagi generasi mendatang. Menurutnya, dokumentasi masa lalu dapat menjadi kenangan sekaligus sumber pembelajaran.
“Itu satu, kearsipan itu sesuatu yang harus kita simpan baik-baik. Jangan sampai data-data, foto-foto, ataupun hasil-hasil karya yang sudah dibuat cukup lama menjadi barang yang tidak bermanfaat atau tidak berguna. Dengan menyimpannya dengan baik, dengan mengarsipkannya dengan baik, itu akan menjadi satu kenangan yang sangat indah dan pastinya dari masa lalu kita akan banyak belajar juga,” ujar Siti Hapsah.
Siti juga mengaku tertarik dengan salah satu foto yang menampilkan ruas jalan di kawasan Kotabaru. Menurutnya, kondisi jalan tersebut tampak masih serupa dengan kondisi saat ini meski foto itu diambil pada 1976.
“Yang paling berkesan bagi saya, saya melihat jalan di tengah yang ada di Kotabaru. Jalan apa ya sekarang namanya. Itu ternyata dari tahun 1976 saya lihat fotonya, sampai sekarang sama sekali tidak ada perubahan. Kalau foto-foto yang lain sedikit perubahan. Tapi yang di tengah-tengah jalan itu sampai sekarang masih sama kondisinya dengan yang ada saat ini,” katanya.
Ke depan, jejak masa lalu Kota Yogyakarta akan terus digali melalui arsip foto dengan mengangkat tema-tema yang lebih menarik. Jumlah foto yang dipamerkan juga akan ditambah agar masyarakat dapat mengenali secara lebih utuh perjalanan Kota Yogyakarta dari masa ke masa.










