TVRINews, Yogyakarta
Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dirasakan langsung oleh Budi Susanto, pengrajin tempe di Dusun Pepen Kulon, Giripeni, Wates, Kabupaten Kulonprogo.
Budi mengaku pendapatannya menurun signifikan sejak rupiah terus melemah dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut berdampak pada naiknya harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama pembuatan tempe.
Harga kedelai impor yang sebelumnya sekitar Rp8 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp11 ribu per kilogram. Kenaikan juga terjadi pada harga plastik kemasan yang melonjak dari Rp50 ribu menjadi Rp100 ribu per pak.

Meningkatnya harga bahan baku membuat biaya produksi membengkak. Akibatnya, para pengrajin tempe mengalami penurunan pendapatan hingga 30–40 persen.
Untuk menyiasati menipisnya keuntungan, Budi terpaksa memperkecil ukuran tempe produksinya. Ia juga mempertimbangkan kenaikan harga jual sebesar Rp500 per bungkus jika harga kedelai terus meningkat.
Budi mengatakan kondisi saat ini cukup memberatkan bagi pelaku usaha kecil seperti dirinya.
“Pendapatan turun sekitar 30 sampai 40 persen. Saat ini ukuran tempe dikurangi. Kami juga masih menunggu pedagang lain kalau harus menaikkan harga. Yang sebelumnya Rp2 ribu, kemungkinan bisa naik Rp500 per bungkus kalau harga kedelai terus naik,” ujar Budi.
Ia berharap harga bahan baku kembali stabil agar usaha para produsen tempe dapat bertahan.
“Semoga ke depan harga bahan bisa turun supaya pedagang dan produsen lebih stabil,” tambahnya.
Setiap hari, Budi membutuhkan sekitar 100 kilogram kedelai impor untuk diproduksi menjadi tempe. Produk tersebut dipasarkan ke sejumlah pasar tradisional di wilayah Kulonprogo dan sekitarnya.
Saat ini, tempe dijual mulai Rp2 ribu untuk ukuran kecil hingga Rp6 ribu untuk ukuran besar. Sebagai pengrajin kecil, Budi berharap nilai tukar rupiah segera membaik agar harga kedelai kembali normal.










