TVRINews, Bantul
Rasa empati dan semangat gotong royong menjadi dasar digelarnya Konser Amal Jogja Peduli NTT dan Kalimantan di Jogja Expo Center, Bantul. Kegiatan kemanusiaan ini melibatkan puluhan musisi lintas genre. Mereka bersatu di atas panggung untuk menggalang bantuan bagi masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan.
Gagasan konser ini berawal dari obrolan singkat para pekerja seni. Ide tersebut kemudian dimatangkan secara maraton hanya dalam waktu beberapa hari.
Meski dipersiapkan dalam waktu singkat, dukungan dan antusiasme masyarakat terbilang tinggi. Bahkan, sebelum konser dilaksanakan, jumlah donasi telah mencapai lebih dari setengah miliar rupiah.
Selain penggalangan dana, para musisi juga melakukan lelang barang pribadi, mulai dari topi, gelang, cincin, hingga jaket. Seluruh hasilnya kemudian digabungkan dengan donasi untuk korban bencana.
Panitia juga berangkat langsung ke NTT untuk menyalurkan bantuan. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, panitia memastikan laporan penggunaan dana disampaikan secara terbuka.
Perwakilan penyelenggara, Bejo Kahono, mengatakan konser amal tersebut merupakan bentuk gotong royong para pelaku seni di Yogyakarta.
“Jadi, ini para pelaku pekerja seni yang ada di Jogja yang juga bergotong royong bersama atas terselenggaranya konser amal ini,” kata Bejo, dikutip Rabu, 2 September 2026.
Konser Amal Peduli NTT dan Kalimantan dimeriahkan sekitar 15 musisi dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka antara lain NDX AKA, Guyon Waton, Ndarboy Genk, Pendhoza, Aftershine, Toton Caribo, Masdddho, OM Wawes, dan Ngatmombilung.
Selain penampilan musik, acara juga diisi dengan doa bersama yang dipimpin Salman Al Jogjawi atau Sakti, eks gitaris Sheila on 7.
Bagi para musisi, keterlibatan dalam aksi ini bukan sekadar tampil di atas panggung, melainkan menjadi upaya untuk mengubah kepedulian menjadi bantuan nyata.
Musisi Yonanda Frisna Damara mengatakan aksi tersebut didasari oleh semangat kemanusiaan dan pengalaman masyarakat Yogyakarta yang pernah merasakan dampak bencana gempa bumi.
“Yang pastinya ini adalah kemanusiaan. Dulu Jogja pernah terkena dampak gempa juga, jadi kita bisa merasakan bagaimana membutuhkan bantuan dan bagaimana harus pulih kembali. Jadi, kita berinisiatif mengadakan konser amal ini. Ada 15 musisi yang mendukung acara ini dengan ketulusan hati mereka yang sangat luar biasa,” ujarnya.
Dari panggung musik di Daerah Istimewa Yogyakarta, para musisi dan masyarakat berupaya menjadikan seni sebagai jembatan kemanusiaan.
Semangat gotong royong ini menunjukkan bahwa kepedulian, sekalipun dimulai dari langkah kecil, mampu memberikan manfaat besar bagi mereka yang membutuhkan.









