TVRINews, Yogyakarta
Kawasan Candi Prambanan akan menjadi lokasi penyelenggaraan pertandingan tinju profesional internasional bertajuk The Temple of Champions pada 7 November 2026.
Ajang ini akan memperebutkan dua sabuk World Boxing Council (WBC) Asia Silver di kelas featherweight dan super bantamweight.
Sebanyak 20 petinju dari Indonesia dan luar negeri dijadwalkan tampil dalam 10 pertandingan profesional. Petinju Indonesia akan berhadapan dengan sejumlah petarung internasional, termasuk dari Thailand.
Founder Equator Promotion, Albert Kristianto Gunawan, mengatakan pemilihan kawasan Candi Prambanan didasarkan pada nilai sejarah dan budaya yang dimiliki destinasi tersebut.
Penyelenggara ingin memadukan olahraga tinju profesional dengan kekayaan budaya Indonesia dalam sebuah ajang berskala internasional.
“Jadi, hari ini kami melakukan konferensi pers untuk acara tinju yang rencananya digelar di Prambanan pada 7 November 2026. Ini acara berskala internasional yang mengombinasikan fight sport dan combat sport dengan kebudayaan,” ujar Albert.
Menurut dia, The Temple of Champions tidak hanya menjadi arena pertandingan, tetapi juga panggung bagi petinju profesional Indonesia untuk menunjukkan kemampuan mereka di hadapan lawan dari negara lain.
“Kami memang memilih tempat yang punya nilai historis dan akan mengusung budaya Indonesia supaya dikenal di kancah internasional. Kami menghadirkan petarung-petarung terbaik dari Indonesia yang akan melawan petarung internasional dari Thailand,” katanya.
Dalam ajang tersebut, dua sabuk WBC Asia Silver akan diperebutkan pada kelas featherweight dan super bantamweight. Perebutan gelar ini diharapkan memberi kesempatan kepada petinju Indonesia untuk menambah pengalaman bertanding sekaligus meningkatkan daya saing di tingkat regional.
Selain menjadi ajang kompetisi, penyelenggaraan The Temple of Champions dirancang untuk memperkenalkan budaya dan pariwisata Indonesia kepada masyarakat internasional.
Candi Prambanan dipilih sebagai latar penyelenggaraan untuk memperkuat perpaduan antara olahraga profesional dan warisan budaya.
Melalui konsep tersebut, penyelenggara berharap ajang ini dapat menarik perhatian penonton sekaligus memperkuat posisi Yogyakarta sebagai destinasi penyelenggaraan kegiatan olahraga bertaraf internasional.










