TVRINews, Yogyakarta
Tingginya permintaan cacing sutra dari kalangan pembenih ikan air tawar membuat para pembudidaya kewalahan memenuhi kebutuhan pasar. Kondisi ini menjadi peluang usaha yang menjanjikan karena kebutuhan terus meningkat, sementara kapasitas produksi masih terbatas.
Salah satu pembudidaya cacing sutra, Tri Wahyu Widodo, mengaku produksi yang dihasilkan saat ini masih jauh dari cukup untuk memenuhi permintaan konsumen. Menurutnya, tingginya kebutuhan cacing sutra didorong oleh banyaknya pembenih ikan air tawar, baik ikan hias maupun ikan lele, yang memanfaatkan cacing sutra sebagai pakan utama larva ikan.

(Foto: Pembudidaya cacing sutra, Tri Wahyu Widodo)
"Permintaannya sangat tinggi. Satu pembenih lele saja rata-rata membutuhkan sekitar tiga liter per hari. Jika ada empat hingga lima pembenih yang sedang melakukan pemijahan secara bersamaan, kebutuhan bisa mencapai 10 hingga 15 liter per hari. Sementara produksi kami belum mampu memenuhi seluruh permintaan tersebut," ujar Tri dalam keterangan yang diterima tvrinews.com pada Rabu, 3 Juni 2026.
Tri menjelaskan, dari lahan budidaya seluas 3.600 meter persegi, pihaknya hanya mampu menghasilkan sekitar enam liter cacing sutra per hari. Panen dilakukan dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari.
Selain dibutuhkan oleh para pembenih ikan hias dan lele, cacing sutra juga banyak dicari oleh kalangan pemancing sebagai umpan. Saat ini, cacing sutra dijual dengan harga Rp10.000 per cangkir berukuran 250 mililiter atau sekitar Rp30.000 per liter.
Harga tersebut dapat meningkat saat musim hujan karena produksi cenderung menurun. Kondisi ini membuat pasokan semakin terbatas di tengah tingginya kebutuhan pasar.
Meski demikian, Tri menilai budidaya cacing sutra relatif mudah dilakukan. Perawatan utama hanya meliputi penguatan tanggul kolam untuk mencegah masuknya predator seperti ikan liar dan kepiting air tawar, serta mengantisipasi banjir yang dapat merusak area budidaya.
Kebutuhan pakan cacing sutra pun cukup mudah dipenuhi karena dapat memanfaatkan sisa-sisa makanan organik. Dengan tingkat kematian yang rendah, usaha budidaya ini dinilai memiliki prospek cerah dan mampu memberikan keuntungan yang cukup besar bagi para pelakunya.
Belum seimbangnya antara permintaan dan produksi menjadikan budidaya cacing sutra sebagai peluang usaha yang masih terbuka lebar bagi masyarakat yang ingin mengembangkan sumber pendapatan baru di sektor perikanan.










