TVRINews, Gunugkidul
Belasan siswa sekolah dasar di Kabupaten Gunungkidul turut memeriahkan Pertunjukan Rakyat 2026 dengan menampilkan drama, tari, serta berbagai karya batik lokal. Mengusung tema “Gayeng Guyub Sidamukti”, kegiatan ini menjadi ruang edukasi budaya sekaligus upaya mengenalkan batik dan kesenian lokal kepada generasi muda sejak dini.
Pertunjukan Rakyat 2026 digelar di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul dan Hari Batik Nasional.
Suasana gayeng dan guyub terlihat selama kegiatan berlangsung. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Komunikasi dan Informatika menghadirkan berbagai pertunjukan kesenian dengan melibatkan siswa sekolah dasar.
Keterlibatan para siswa tidak sekadar menjadi bagian dari pertunjukan. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kesenian dan budaya lokal kepada generasi muda agar semakin dekat dengan warisan budaya daerah.
Selain pertunjukan seni, kegiatan tersebut dimeriahkan dengan kehadiran 11 stan batik. Beragam produk kerajinan dipamerkan, termasuk batik hasil karya siswa sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah (MI) yang berada di bawah binaan Dompet Dhuafa.
Batik karya para siswa tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan potensi batik lokal Gunungkidul kepada masyarakat luas. Pengunjung tidak hanya dapat melihat dan mengenal berbagai karya batik, tetapi juga berkesempatan mencoba langsung proses membatik.
Mulai dari teknik batik tulis hingga teknik tancep, pengunjung diajak mengenal proses pembuatan batik secara langsung. Interaksi tersebut membuat batik tidak hanya dipandang sebagai produk, tetapi juga sebagai bagian dari proses budaya yang dapat dipelajari dan diwariskan.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Gunungkidul, Didik Handoko, mengatakan Pertunjukan Rakyat 2026 tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Gunungkidul dan Hari Batik Nasional, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi seni dan kerajinan lokal kepada masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan siswa dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menanamkan kecintaan terhadap budaya sejak usia dini.
“Pertunjukan rakyat ini kita kombinasikan antara pertunjukan rakyat dan pameran batik. Pameran batik ini diikuti 11 perwakilan SD atau MI di bawah binaan Dompet Dhuafa. Tujuan pelaksanaan kegiatan ini, pertama, mendiseminasikan atau menyebarluaskan tema Hari Jadi agar masyarakat bisa memahami makna tema Hari Jadi tahun ini. Kedua, kami ingin mengenalkan potensi karya siswa SD, terutama terkait dengan pembuatan batik dan hasil karyanya,” ujar Didik Handoko, dikutip Jumat, 9 Oktober 2026.
Melalui Pertunjukan Rakyat bertema “Gayeng Guyub Sidamukti”, peringatan Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul dan Hari Batik Nasional tidak hanya menjadi momentum perayaan, tetapi juga menjadi upaya untuk merawat seni, budaya, dan karya lokal.
Pengenalan budaya sejak dini diharapkan dapat menumbuhkan apresiasi generasi muda sekaligus menjaga keberlanjutan budaya lokal. Dengan demikian, batik dan kesenian Gunungkidul tidak hanya menjadi warisan yang dikenang, tetapi juga dapat terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.










