TVRINews, Yogyakarta
Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah dinilai memberikan dampak ganda bagi perekonomian. Selain berpotensi menekan daya beli masyarakat, kondisi tersebut juga mendorong pergeseran minat wisata ke destinasi domestik.
Sejumlah pelaku industri pariwisata menyebut, melemahnya nilai rupiah terhadap dolar membuat masyarakat yang sebelumnya berencana bepergian ke luar negeri mulai mengalihkan pilihan ke destinasi wisata dalam negeri. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Bali masih menjadi tujuan favorit wisatawan domestik maupun mancanegara.
Ketua Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengatakan tren tersebut turut berdampak pada tingkat kunjungan di sektor perhotelan.
“Dari sisi okupansi memang belum terlalu signifikan, tetapi ada pergerakan pada sektor makanan dan minuman. Wisatawan, termasuk wisatawan asing, lebih banyak berbelanja di restoran dan kafe,” ujar Deddy.
Ia menambahkan, tingkat hunian hotel di DIY selama bulan Mei tercatat berada pada kisaran 70 hingga 80 persen. Wisatawan kelas menengah atas cenderung memilih hotel berbintang, sementara wisatawan kelas menengah ke bawah menyesuaikan pilihan akomodasi dengan kemampuan masing-masing.
Sementara itu, dampak penguatan dolar mulai terlihat lebih jelas pada sektor kuliner dan usaha makanan dan minuman (FnB). Wisatawan asing disebut lebih banyak melakukan pengeluaran dalam bentuk konsumsi di kawasan wisata seperti Malioboro dan Prawirotaman.
Menurut pelaku industri, pergeseran pola belanja ini menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi pariwisata di DIY, meskipun dampaknya terhadap okupansi hotel masih terbatas.
Dengan kondisi tersebut, penguatan dolar AS tidak hanya dipandang sebagai tekanan terhadap daya beli, tetapi juga sebagai peluang bagi pengembangan pariwisata domestik dan sektor pendukungnya.










