TVRINews, Yogyakarta
Komite Olahraga Nasional Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta mulai mematangkan persiapan menghadapi Pekan Olahraga Nasional XXII dengan menggelar skrining cedera dan tes psikologi bagi atlet yang tergabung dalam program Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda).
Kegiatan tahap pertama yang berlangsung di Kantor KONI DIY tersebut diikuti 33 atlet. Mayoritas peserta merupakan peraih medali emas dan perak pada Pekan Olahraga Nasional XXI yang diproyeksikan kembali menjadi andalan DIY pada ajang nasional mendatang.
Melalui pemeriksaan yang melibatkan Bidang Sport Science, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek), serta Kesehatan Olahraga, KONI DIY berupaya memetakan kondisi fisik dan mental atlet sebagai bagian dari pembinaan jangka panjang menuju PON 2028.
Kepala Bidang Pembinaan Prestasi KONI DIY, Wesley Heince Parera Tauntu, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam menyusun program latihan yang lebih terukur dan sesuai kebutuhan atlet.]

(Foto: Kepala Bidang Pembinaan Prestasi KONI DIY, Wesley Heince Parera Tauntu)
“Kami melaksanakan tes terkait kondisi cedera dan motivasi psikologi atlet menuju PON NTT–NTB. Ini merupakan program yang telah dipersiapkan KONI DIY, khususnya Bidang Pembinaan Prestasi, dalam rangka mempersiapkan atlet menuju PON 2028. Saat ini kami baru melaksanakan tes terhadap 33 atlet Puslatda. Harapannya, pada pertengahan tahun ini kami dapat melengkapi slot cabang olahraga maupun atlet yang akan dipersiapkan menuju PON NTT–NTB,” ujar Wesley.
Selain memantau kondisi kesehatan atlet setelah menjalani latihan intensif selama beberapa bulan terakhir, tes psikologi juga dilakukan untuk mengetahui karakter, motivasi, dan ketahanan mental atlet selama menjalani program pembinaan.
Kepala Bidang Sport Science, Iptek, dan Kesehatan Olahraga KONI DIY, Triastuti Widyaningrum, menjelaskan hasil tes tersebut nantinya akan menjadi bahan pertimbangan bagi pelatih dalam menentukan pendekatan latihan yang paling efektif.
“Kami ingin melihat apakah atlet memiliki daya juang yang tinggi, termasuk motivasi berprestasi dan tingkat resiliensi mereka. Selain itu, kami juga menilai hubungan atlet dengan pelatih. Dari hasil tersebut, kami berharap memiliki data yang dapat membantu pelatih menentukan pendekatan yang tepat bagi setiap atlet sehingga proses latihan menjadi lebih efektif dan produktif,” katanya.
Sementara itu, pemeriksaan fisik difokuskan pada deteksi dini faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko cedera selama latihan maupun pertandingan.
Pengawas Tes Cedera, Muh. Ikwan Zeln, menjelaskan skrining dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemeriksaan struktur tubuh hingga fungsi otot dan keseimbangan atlet.
“Pada tes ini kami berfokus untuk mengetahui apakah atlet memiliki faktor risiko cedera. Kami menilai berbagai aspek, mulai dari perbedaan panjang tungkai, bentuk kaki, kondisi engkel dan lutut, hingga keseimbangan serta kekuatan otot. Pemeriksaan juga mencakup fungsi otot tungkai, otot inti tubuh (core), dan otot bagian atas. Hasil skrining ini nantinya menjadi data bagi pelatih untuk menentukan aspek yang perlu ditingkatkan sehingga performa atlet semakin baik dan risiko cedera dapat ditekan,” ujarnya.
Program Puslatda jangka panjang KONI DIY sendiri telah berjalan sejak Desember 2025 dengan melibatkan atlet-atlet peraih medali pada PON Aceh-Sumatera Utara 2024. Pada 2026, KONI DIY menargetkan sekitar 150 atlet masuk dalam program pembinaan, sebelum jumlah tersebut kembali bertambah menjelang babak kualifikasi PON pada 2027.
Melalui pendekatan berbasis sport science dan pemantauan kesehatan yang lebih komprehensif, KONI DIY berharap mampu menyiapkan atlet-atlet terbaik yang siap bersaing dan mempertahankan prestasi pada PON NTT–NTB 2028.










