TVRINews, Yogyakarta
Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi 100 penyandang disabilitas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk berkarya.
Mereka mengikuti kegiatan Membatik Bersama 100 Difabel di Pendopo Wiyotoprojo, Kantor Gubernur DIY, Kompleks Kepatihan, Danurejan, Kota Yogyakarta, Jumat, 18 September 2026.
Dengan tekun, para peserta menggoreskan canting dan kuas di atas kain putih. Malam ditorehkan untuk menghasilkan karya batik dengan karakter dan ekspresi masing-masing.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi langkah awal peluncuran ekosistem Ability Batik atau A-B Batik. Program ini dikembangkan untuk membangun ruang pemberdayaan dan ekosistem usaha bagi penyandang disabilitas, sekaligus mendorong DIY menjadi sentra batik difabel tingkat nasional.
Seratus peserta berasal dari lima kabupaten/kota di DIY, yakni Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul.
Peserta terdiri atas 40 penyandang polio, 23 penyandang disabilitas daksa, 12 penyandang disabilitas intelektual atau tunagrahita, 11 penyandang tunarungu wicara, tujuh penyandang cerebral palsy, empat penyandang disabilitas mental atau tunalaras, satu penyandang low vision, serta satu penyandang autisme.
Kepala Dinas Sosial DIY Suyarno mengatakan kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Daerah DIY, dunia usaha, dan organisasi penyandang disabilitas Difabel Zone.
“Ini adalah kolaborasi bagaimana Pemda DIY dengan dunia usaha dan juga dari organisasi penyandang disabilitas Difabel Zone. Yang notabene Difabel Zone ini juga bergerak dalam kegiatan pembelajaran sehingga ini diperluas. Nantinya kita mencoba membuat akses pemberdayaan dan juga ekosistem usaha batik disabilitas Yogyakarta. Harapannya jadi sentra batik difabel juga di DIY,” kata Suyarno.
Menurut Suyarno, nama Ability Batik atau A-B Batik dipilih untuk membangun paradigma baru terhadap karya penyandang disabilitas. Istilah tersebut juga dinilai lebih mudah dikenal dalam konteks internasional.
Ia mengatakan karya batik para perajin difabel memiliki estetika dan keunikan visual tersendiri. Pendekatan ekspresif yang muncul dalam karya tersebut dinilai dapat menjadi salah satu daya tarik bagi pasar mancanegara.
Sejumlah produk batik karya komunitas difabel di Yogyakarta telah dikembangkan. Di antaranya Batik Kumplu yang sebelumnya diluncurkan dalam Jogja Fashion Week dan Batik Janur dari Difabel Zone yang telah memperoleh perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI).
“Nanti mungkin akan mengerucut di AB Batik yang kita rilis hari ini, yaitu Ability Batik. Jadi itu akan jadi branding kita bersama untuk AB Batik,” ujar Suyarno.
Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X mengatakan tantangan saat ini adalah memastikan kekayaan budaya dapat menghadirkan ruang partisipasi yang setara dan inklusif.
“Inklusivitas harus memberikan kesempatan untuk berkarya, berkembang, dan memperoleh penghargaan yang layak atas karya tersebut. Dari sinilah cita-cita menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu sentra batik difabel Indonesia memperoleh maknanya, sebuah ekosistem tempat kebudayaan, kreativitas, pemberdayaan sosial, dan kemandirian ekonomi saling menguatkan,” ujar Paku Alam X.
Pengembangan produk batik karya penyandang disabilitas juga didukung dengan perlindungan HKI. Produk tersebut kini dipasarkan melalui 15 titik toko fisik dan gerai di Bandara Internasional Yogyakarta.
Selain pasar domestik, karya para pembatik difabel telah dipasarkan ke sejumlah negara di Eropa, Australia, dan Jepang.
Dari sisi harga, kain batik tulis dibanderol mulai Rp500 ribu hingga Rp5 juta per lembar, bergantung pada tingkat kerumitan pengerjaan. Sementara produk suvenir, seperti tas totebag, dipasarkan dengan harga Rp50 ribu hingga Rp250 ribu.
Para perajin juga menerima kompensasi di atas rata-rata pasar sebagai bentuk apresiasi terhadap karya yang mereka hasilkan.
Salah satu pembatik difabel, Widiyaskoro Wibowo, mengatakan batik merupakan salah satu ciri khas tradisional Yogyakarta yang perlu terus didukung dan dikembangkan, termasuk dengan memberikan ruang lebih besar bagi pembatik difabel.
“Batik ini kan sebagai ciri kita, khas tradisional Yogyakarta. Sebenarnya saya juga sebagai warga Yogyakarta harus bisa mendukung program di Yogyakarta ini. Untuk memajukan batik, apalagi untuk difabel, yang saat ini belum mendapatkan perhatian ekstra dari pemerintah juga,” katanya.
Program Ability Batik tidak berhenti pada kegiatan membatik bersama. Setelah pelatihan, para peserta akan mendapatkan pendampingan intensif selama satu bulan.
Tim Difabel Zone akan mendatangi rumah masing-masing peserta untuk memantau perkembangan teknik membatik sekaligus memfasilitasi kebutuhan produksi.
Rangkaian program tersebut akan ditutup bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional pada 3 Desember 2026. Penutupan akan diisi dengan pameran dan peragaan busana yang melibatkan sejumlah desainer lokal Yogyakarta.
Karya para pembatik difabel nantinya akan dipamerkan dan diperagakan dalam kegiatan tersebut di Bandara Internasional Yogyakarta, Kulon Progo.
Melalui Ability Batik, para penyandang disabilitas tidak hanya mendapat ruang untuk berkarya, tetapi juga diarahkan untuk terhubung dengan ekosistem kebudayaan, kreativitas, pemberdayaan sosial, dan kemandirian ekonomi secara berkelanjutan.










