TVRINews, Yogyakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan wilayah DIY telah memasuki musim kemarau. Pada tahun 2026, musim kemarau dipengaruhi fenomena El Nino yang diperkirakan menyebabkan kemarau berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
El Nino merupakan fenomena alam berupa peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur di atas kondisi normal. Di Indonesia, fenomena ini umumnya menyebabkan penurunan curah hujan sehingga memicu musim kemarau yang lebih panjang, suhu udara yang lebih panas, serta meningkatkan risiko kekeringan.
Prakirawan Iklim BMKG DIY, Dr. Aristya Ardhitama, mengatakan berdasarkan prediksi BMKG, seluruh wilayah DIY saat ini telah memasuki musim kemarau dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus dan berlangsung hingga November.
"Dari prediksi BMKG bahwasanya di Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini sudah masuk musim kemarau yang kita prediksi puncaknya ada di bulan Agustus dan kita perkirakan hingga bulan November," ujar Aristya, Selasa, 14 Juli 2026.
Menurutnya, kondisi tahun 2026 memiliki karakteristik yang berbeda karena dipengaruhi fenomena El Nino yang menyebabkan curah hujan berada di bawah normal sehingga musim hujan diprediksi datang lebih lambat.
"Yang agak unik di tahun 2026 itu ada fenomena el nino yang membuat kemarau berkepanjangan, kita prediksi curah hujannya dibawah normal dan kita prediksikan musim hujan agak mundur, ini berpengaruh di berbagai sektor terutama ketersedian air baku kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian," katanya.
BMKG juga telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan, baik kekeringan meteorologis, hidrologis, maupun pertanian. Daerah yang paling rentan meliputi sebagian besar Kabupaten Gunungkidul, sebagian wilayah Kabupaten Bantul, serta wilayah selatan Kabupaten Kulon Progo.
Kekeringan meteorologis merupakan kondisi kekurangan curah hujan di suatu wilayah dibandingkan dengan kondisi normalnya dalam periode waktu tertentu. Sementara itu, kekeringan hidrologis yaitu berkurangnya pasokan air permukaan seperti sungai dan danau dan air tanah seperti sumur atau waduk di bawah tingkat normal akibat berkurangnya curah hujan dalam jangka panjang. Adapun kekeringan pertanian yaitu kekurangan lengas tanah atau kandungan air di dalam tanah yang tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman tertentu pada periode kritis pertumbuhan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air, mewaspadai potensi kekeringan, serta menjaga kondisi kesehatan selama musim kemarau berlangsung.










