TVRINews, Yogyakarta
Kawasan pesisir selatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus dikembangkan sebagai salah satu sentra produksi bawang merah. Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Pemerintah DIY bersama Kementerian Pertanian dan Pemerintah Kabupaten Bantul mendorong peningkatan produktivitas melalui intensifikasi pertanian serta pemanfaatan teknologi.
Salah satunya dilakukan di lahan pertanian Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek. Di kawasan tersebut, petani mulai memanfaatkan teknologi penyiraman berbasis elektrifikasi atau Agro Electrifying untuk meningkatkan efisiensi budidaya.
Hasilnya, produktivitas bawang merah pada musim panen raya kali ini mencapai sekitar 20 ton per hektare. Kualitas hasil panen juga dinilai cukup baik, sementara harga di tingkat petani berada pada kisaran Rp18 ribu per kilogram.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan tingginya produksi dan harga jual memberikan dampak positif terhadap pendapatan petani.
“Panen kali ini menunjukkan bahwa lahan pesisir mampu memberikan hasil yang sangat baik. Secara keseluruhan, nilai produksi bawang merah di kawasan ini mencapai sekitar Rp72 miliar,” ujar Abdul Halim.
Capaian tersebut juga memperkuat posisi Bantul sebagai salah satu daerah penyangga produksi bawang merah di DIY.
Direktur Pembenihan Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sanusi, mengatakan hasil produksi pada panen raya kali ini menjadi kontribusi penting terhadap ketersediaan bawang merah di Bantul maupun DIY.
“Produksi sekitar 4.000 ton pada panen raya ini tentu menjadi capaian yang positif. Bantul memiliki peran besar dalam menjaga ketersediaan bawang merah, khususnya untuk kebutuhan di wilayah DIY,” kata Agung.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Bantul menyumbang sekitar 66 hingga 70 persen produksi bawang merah di DIY. Besarnya kontribusi tersebut membuat pengembangan kawasan produksi menjadi penting untuk menjaga pasokan sekaligus membantu mengendalikan gejolak harga.
“Kalau produksi dan ketersediaannya terjaga, pasokan bawang merah akan lebih aman. Kondisi ini juga diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas harga dan menekan potensi inflasi di DIY,” jelas Agung.
Dari sisi petani, harga bawang merah saat ini dinilai cukup menguntungkan. Salah seorang petani, Wandiyo, menyebut harga jual di tingkat petani mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kalau tahun lalu harganya sekitar Rp10 ribu per kilogram, sekarang sudah di atas Rp15 ribu, bahkan bisa mencapai Rp20 ribu. Jadi hasil panen kali ini cukup menggembirakan,” ujar Wandiyo.
Petani lainnya, Suharni, menambahkan kondisi cuaca yang relatif mendukung turut membantu proses budidaya. Serangan hama dan penyakit yang tidak terlalu tinggi juga membuat kualitas hasil panen lebih baik.
Selain meningkatkan produksi, pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi pertanian untuk menekan biaya dan meningkatkan efisiensi penggunaan air. Langkah tersebut diharapkan membuat lahan pesisir tetap produktif meski berada di kawasan dengan karakteristik lahan dan cuaca yang cukup menantang.
Pemerintah juga memastikan ketersediaan bawang merah secara nasional masih dalam kondisi aman. Penguatan sentra produksi di Bantul diharapkan mampu menjaga kesinambungan pasokan, meningkatkan pendapatan petani, serta mendukung stabilitas harga pangan.
Pengembangan kawasan bawang merah di pesisir selatan Bantul pun ditargetkan tidak berhenti pada peningkatan produksi. Pemerintah berharap kawasan tersebut dapat berkembang sebagai model pertanian produktif berbasis teknologi sekaligus menjadi salah satu penyangga ketahanan pangan di DIY.










