TVRINews, Yogyakarta
Pameran buku internasional Big Bad Wolf atau BBW kembali hadir di Yogyakarta dengan membawa lebih dari satu juta buku. Memasuki satu dekade penyelenggaraannya di Indonesia, pameran buku ini langsung mendapat sambutan antusias dari masyarakat.
Antrean pengunjung bahkan telah terlihat sejak pagi di Hall Jogja Expo Center atau JEC. Warga mulai mengantre sekitar pukul 07.00 WIB, atau dua jam sebelum pameran resmi dibuka pada pukul 09.00 WIB.
Begitu pintu dibuka, pengunjung langsung memadati area pameran untuk mencari berbagai buku yang diminati.
Big Bad Wolf 2026 berlangsung pada 3 hingga 13 September 2026. Lebih dari satu juta buku dari berbagai kategori ditawarkan, mulai dari buku anak, kesehatan, memasak, referensi, hingga buku untuk menunjang hobi.
Memasuki satu dekade kehadirannya di Indonesia, penyelenggara menargetkan BBW tidak hanya menarik pengunjung lama, tetapi juga menjaring lebih banyak pembaca baru, khususnya pelajar dan mahasiswa.
Pemilihan September sebagai waktu penyelenggaraan dinilai strategis karena aktivitas perkuliahan telah kembali berjalan. Momentum ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan sekaligus memperluas akses masyarakat Yogyakarta terhadap buku.
Country Director BBW Books Indonesia, Marthius Wandi Budianto, mengaku terkejut dengan tingginya antusiasme masyarakat Yogyakarta sejak hari pertama.
“Sangat terkejut dan kaget juga ya, antusiasme masyarakat Yogyakarta ternyata luar biasa. Tapi yang sebenarnya kita targetkan lebih ke jumlah pembaca barunya,” ujar Marthius.
Ia mengatakan, penyelenggaraan pada periode perkuliahan diharapkan dapat memberikan kesempatan lebih besar bagi pelajar dan mahasiswa untuk datang dan menemukan buku sesuai kebutuhan mereka.
Antusiasme pengunjung juga terlihat dari tingginya minat terhadap berbagai koleksi. Salah satu yang banyak diburu adalah buku anak impor berbahasa Inggris dengan fitur interaktif, seperti buku pop-up dan buku yang dilengkapi suara.
Untuk mengakomodasi tingginya permintaan, penyelenggara juga menyediakan layanan jasa titip atau jastip dengan area serta kasir khusus. Fasilitas ini dihadirkan untuk memudahkan pengunjung sekaligus menjaga kenyamanan di area pameran.
Salah seorang pengunjung, Rifa, mengatakan layanan jastip menjadi salah satu fasilitas yang banyak dimanfaatkan pengunjung BBW.
“Dari tahun lalu juga sudah jastip. Dari dua tahun yang lalu masih tinggi banget sampai sekarang juga masih tinggi. Kalau di tempat saya kebanyakan beli buku referensi, seperti cerita, tetapi ada ilmu pengetahuannya,” kata Rifa.
Kehadiran Big Bad Wolf 2026 juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemerintah menilai konsistensi penyelenggaraan pameran buku menunjukkan semakin kuatnya ekosistem literasi dan perbukuan di Yogyakarta.
Namun, peningkatan jumlah kegiatan literasi dinilai perlu diikuti dampak nyata, terutama dalam mendorong budaya membaca serta memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan DPAD DIY, Zulfa Kurniawan, mengatakan buku memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar komoditas.
“Buku bukan sekadar komoditas, tetapi bagian dari ekosistem pengetahuan dan kebudayaan. Karena itu, kami melihat dengan gembira semakin meriahnya kegiatan literasi dan event perbukuan. Daerah Istimewa Yogyakarta semakin dipercaya sebagai ruang pendukung ekosistem literasi dan perbukuan,” ujar Zulfa.
Selain menjadi tempat berburu buku, Big Bad Wolf 2026 diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk mendapatkan bacaan sesuai minat dan kebutuhan.
Dengan menghadirkan lebih dari satu juta buku, pameran ini diharapkan tidak hanya mendorong transaksi pembelian buku, tetapi juga meningkatkan minat baca dan menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari keseharian masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa.










