TVRINews, Yogyakarta
Kenaikan harga sejumlah komoditas sayuran menjadi pemicu inflasi di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Oktober 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul mencatat inflasi bulanan atau month-to-month sebesar 0,32 persen.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi Kabupaten Sleman yang mencapai 0,21 persen dan tingkat Provinsi DIY sebesar 0,27 persen.
Berdasarkan data BPS Gunungkidul, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi Oktober dengan andil mencapai 0,30 persen.
Sejumlah komoditas sayuran yang memberikan kontribusi terhadap kenaikan harga di antaranya cabai merah, tomat, cabai rawit, dan kacang panjang. Beras juga tercatat menjadi salah satu komoditas yang turut mendorong inflasi.
Kenaikan harga sayuran dipengaruhi berkurangnya pasokan di sejumlah pasar tradisional. Kondisi tersebut menyebabkan harga beberapa komoditas meningkat dan memberikan tekanan terhadap inflasi daerah.
Di sisi lain, daging ayam ras justru menjadi salah satu komoditas yang menahan laju inflasi. BPS mencatat kelebihan pasokan atau over supply daging ayam ras menyebabkan harga jual komoditas tersebut di pasar tradisional mengalami penurunan selama Oktober.
Selain kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga juga memberikan andil inflasi, meski relatif kecil, yakni sebesar 0,01 persen.
Kepala BPS Gunungkidul Agus Hartanto mengatakan, inflasi tahunan di wilayahnya masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional. Meski demikian, angkanya sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Pada 2026 ini, sejak awal tahun memang relatif lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, angka 3,12 persen tersebut masih berada dalam rentang target inflasi nasional,” ujar Agus kutip Selasa, 3 November 2026.
BPS Gunungkidul mencatat inflasi tahunan atau year-on-year pada Oktober 2026 sebesar 3,12 persen. Angka tersebut dihitung berdasarkan perbandingan tingkat harga pada Oktober 2026 dengan Oktober 2025.
Adapun komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi tahunan meliputi cabai rawit, beras, dan emas perhiasan.









