TVRINews Yogyakarta
Memasuki awal musim tanam, petani tembakau di Kapanewon Purwosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menghadapi kenaikan harga bibit yang cukup signifikan.
Selain lonjakan harga, kondisi cuaca dengan curah hujan yang masih tinggi turut menjadi kendala. Situasi ini berisiko menghambat pertumbuhan tanaman, bahkan menyebabkan bibit tembakau muda mati setelah ditanam.
Kenaikan harga bibit dikeluhkan petani di Kalurahan Giritirto. Saat ini, satu paket bibit tembakau berisi sekitar seribu batang dihargai hingga Rp150 ribu, atau naik sekitar Rp30 ribu dibandingkan musim tanam tahun sebelumnya.
Salah satu petani, Karsiyem, mengaku biaya produksi tahun ini meningkat cukup tajam, terutama pada kebutuhan bibit.
“Harga bibit sekarang lebih mahal. Dulu sekitar Rp120 ribu, sekarang naik. Jumlah tanam juga terbatas, sekitar tujuh hingga sepuluh ribu batang,” ujarnya.
Menurutnya, pembelian bibit menjadi salah satu komponen biaya terbesar, selain pupuk dan kebutuhan air untuk penyiraman saat memasuki musim kemarau. Dalam satu musim tanam, petani bisa mengeluarkan biaya ratusan ribu hingga jutaan rupiah hanya untuk pengadaan bibit.
Bibit tembakau, baik jenis lokal maupun standar pabrik, umumnya didatangkan dari wilayah Paliyan hingga Ngawen. Jumlah yang dibeli menyesuaikan luas lahan yang dimiliki masing-masing petani.
Di sisi lain, ketidakpastian cuaca turut menjadi tantangan. Curah hujan yang masih tinggi di awal musim tanam dinilai tidak ideal bagi pertumbuhan tembakau yang lebih cocok ditanam saat kondisi mulai kering.
Meski dihadapkan pada berbagai kendala, tembakau tetap menjadi komoditas unggulan di wilayah ini karena nilai jualnya yang relatif tinggi.
Petani berharap kondisi cuaca segera membaik agar tanaman dapat tumbuh optimal dan menghasilkan panen yang maksimal dalam tiga hingga empat bulan ke depan.










