TVRINews, Yogyakarta
Sebanyak 10 varietas lokal terbaru tanaman hoya resmi memperoleh Sertifikat Tanda Daftar Varietas (TDV) dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Penyerahan sertifikat berlangsung di Rumah Lavia, Dusun Padukan, Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 18 Agustus 2026.
Penyerahan sertifikat tersebut dirangkaikan dengan peluncuran buku Hoya Plantation: Plasma Nutfah Genetika yang Dihargai Dunia karya Hervia Latuconsina Budi, Ketua sekaligus pendiri Perkumpulan Pelestari Tanaman Hoya Indonesia (PPTHI).
Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVTPP) Kementerian Pertanian RI menerbitkan 10 sertifikat TDV tanaman hoya atas nama Bupati Sleman pada 2026. Dengan tambahan tersebut, hingga 2026 sebanyak 27 varietas lokal hoya telah memperoleh Sertifikat TDV dari Kementerian Pertanian.
Sementara itu, sebanyak 52 jenis hoya telah dideskripsikan sebagai bagian dari upaya perlindungan dan pelestarian plasma nutfah tanaman asli Nusantara.
Pencapaian tersebut mendapat apresiasi pemerintah karena dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga kekayaan sumber daya genetik Indonesia, khususnya tanaman hoya yang memiliki beragam jenis dan karakteristik.
Selain memiliki nilai konservasi, tanaman hoya juga dinilai memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Keunikan bentuk daun dan bunganya yang menyerupai porselen atau lilin membuat hoya memiliki daya tarik di pasar tanaman hias, termasuk pasar global.
Peluncuran buku Hoya Plantation menjadi salah satu upaya memperkenalkan tanaman hoya kepada masyarakat sekaligus mendokumentasikan perjalanan pelestariannya di Indonesia.
Hervia Latuconsina Budi mengatakan, buku tersebut disusun bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan sebagai sumber pengetahuan bagi generasi mendatang agar lebih mengenal hoya sebagai salah satu kekayaan hayati Indonesia.
“Saya membuat buku ini bukan seolah-olah untuk saya berada di menara gading, tetapi buku ini tentu bermanfaat untuk ilmu pengetahuan, untuk generasi mendatang,”ujar Hervia.
Menurut Hervia, buku tersebut diharapkan dapat menjadi pegangan bagi masyarakat yang masih awam terhadap tanaman hoya sehingga mereka mengetahui dan ikut menjaga kekayaan hayati yang dimiliki Indonesia.
Ia juga menilai pelestarian hoya endemik Nusantara merupakan bagian dari upaya menjaga warisan hayati agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Aris Eko Nugroho, mengapresiasi peluncuran buku tersebut. Menurutnya, publikasi mengenai hoya dapat memperluas pengetahuan masyarakat, tidak hanya di Yogyakarta tetapi juga hingga luar daerah dan mancanegara.
“Dengan adanya peluncuran buku ini, paling tidak mengenalkan hoya kepada masyarakat di Yogyakarta umumnya dan juga tidak hanya di Yogyakarta, bahkan sampai luar Yogyakarta dan luar negeri,”ungkap Aris.
Aris menambahkan, semakin luas masyarakat mengenal hoya, semakin besar pula peluang tumbuhnya kepedulian untuk menjaga tanaman dan lingkungan.
Upaya pelestarian hoya juga dilakukan para petani di berbagai daerah. Salah satunya John Rembol, petani hoya asal Wonosobo, Jawa Tengah, yang terus mengembangkan tanaman tersebut meski menghadapi keterbatasan akses.
Dalam kegiatan itu, John turut memamerkan dan menjual koleksi tanaman hoya kepada pengunjung. Ia menilai hoya memiliki keunikan sekaligus nilai ekonomi yang menjanjikan.
“Hoya itu sangat unik, sangat menarik, dan bernilai ekonomis tinggi. Banyak orang menganggap hoya bukan tanaman yang menghasilkan. Ternyata, setelah saya berkecimpung di dunia hoya, sungguh sangat luar biasa,”kata John.
John juga menyebut buku karya Hervia dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk lebih memahami tanaman hoya.
Dengan bertambahnya varietas yang telah terdaftar dan semakin luasnya dokumentasi mengenai hoya, PPTHI terus mendorong agar tanaman tersebut dapat berkembang sebagai komoditas tanaman hias di Indonesia, sekaligus tetap menjadi bagian dari upaya pelestarian kekayaan hayati Nusantara.










