TVRINews, Yogyakarta
Puluhan biksu dari empat negara ASEAN, yakni Thailand, Kamboja, Laos, dan Malaysia, melaksanakan tradisi Pindapata di sepanjang Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta. Kegiatan bertajuk Indonesia Walk for Peace 2026 ini menjadi bagian dari misi perdamaian, toleransi, dan persaudaraan antarumat manusia.
Kegiatan tersebut disambut antusias umat Buddha di Yogyakarta yang turut memberikan persembahan kepada para biksu dalam bentuk makanan dan kebutuhan pokok.
Pindapata merupakan tradisi sakral dalam agama Buddha, di mana para bhikkhu berjalan tanpa alas kaki untuk menerima dana atau sedekah dari umat. Tradisi ini dimaknai sebagai latihan kerendahan hati sekaligus penguatan nilai kebajikan, keikhlasan, dan kepedulian sosial.
Beragam kebutuhan diberikan oleh umat, mulai dari air minum, mi instan, telur, hingga bahan pokok lainnya. Seluruh bantuan yang terkumpul nantinya akan disalurkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan.
Perjalanan lintas negara para biksu Thudong ini tidak hanya menjadi ujian ketahanan fisik dalam perjalanan panjang, tetapi juga simbol kemanusiaan dan upaya mempererat persaudaraan global di tengah berbagai konflik dunia.
Di Indonesia, para biksu memulai perjalanan spiritual dari Bali sejak 9 April 2026. Mereka berjalan kaki sekitar 10 jam setiap hari dengan menghadapi cuaca panas di Pulau Jawa yang mencapai 34 hingga 36 derajat Celsius.
Setelah dari Yogyakarta, rombongan biksu dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, untuk mengikuti perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE pada 31 Mei 2026.
Salah satu umat Buddha Yogyakarta, Jasmiko, mengatakan tradisi ini memiliki makna spiritual yang mendalam.
“Dana dari umat diberikan untuk kebutuhan makan para biksu. Dari dulu hingga sekarang memang kehidupan Sangha bergantung pada dukungan umat. Kami berharap tradisi ini tetap terjaga, dan yang terpenting semangat kebersamaan serta nilai spiritualnya tidak berkurang,” ujarnya.
Kegiatan Indonesia Walk for Peace 2026 diikuti sekitar 50 biksu dengan rute perjalanan spiritual sejauh kurang lebih 660 kilometer selama 31 hari. Perjalanan ini dimulai dari Bali pada 7 Mei 2026.
Tradisi tersebut menjadi simbol keberagaman dan toleransi di Indonesia yang sejalan dengan nilai Bhinneka Tunggal Ika.










