TVRINews, Yogyakarta
Keterlibatan organisasi keagamaan dinilai menjadi salah satu kunci dalam memperkuat gerakan pemulihan lingkungan atau yang dikenal dengan istilah tobat ekologis. Melalui kolaborasi dengan Muhammadiyah, Kementerian Lingkungan Hidup mendorong gerakan ini agar semakin luas menjangkau masyarakat, terutama dalam meningkatkan kesadaran menjaga lingkungan dan mengatasi persoalan sampah.
Kerja sama pengelolaan sampah sebelumnya telah dilakukan di sejumlah kampus Muhammadiyah. Kini, praktik baik tersebut didorong untuk diperluas menjadi gerakan berskala nasional melalui penguatan kolaborasi antara pemerintah dan organisasi keagamaan.
Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Jumhur Hidayat, menyampaikan hal tersebut saat melakukan kunjungan dan pertemuan dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Kota Yogyakarta.
Menurut Jumhur, gerakan tobat ekologis tidak cukup hanya mengandalkan perubahan perilaku masyarakat. Diperlukan pendekatan moral, keagamaan, pembangunan kesadaran, hingga penegakan hukum agar upaya pemulihan lingkungan dapat berjalan lebih efektif.
“Untuk hal-hal yang berkaitan dengan moral, religi, dan pembangunan kesadaran, kita sangat membutuhkan dukungan penuh dari organisasi yang luas, besar, dan berilmu. Dengan begitu, gerakan pemulihan lingkungan atau tobat ekologis dapat berjalan lebih efektif,” ujar Jumhur Hidayat.
Ia menegaskan, pemerintah akan mendorong gerakan tersebut agar dapat diterapkan secara lebih luas di berbagai daerah. Sejumlah praktik baik yang telah berjalan di tingkat lokal diharapkan menjadi contoh untuk dikembangkan secara nasional.
“Ke depan, kita ingin lebih mengoperasionalkan di berbagai tempat. Jadi, contoh-contoh baik yang sudah dilakukan di beberapa tempat akan dinasionalkan,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, menyambut baik kunjungan Menteri Lingkungan Hidup beserta rombongan. Ia menegaskan kesiapan Muhammadiyah untuk memperkuat kerja sama dengan pemerintah dalam menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup.
Menurut Sayuti, Muhammadiyah telah mendorong berbagai praktik ramah lingkungan, termasuk melalui pengelolaan masjid yang berorientasi pada prinsip keberlanjutan. Upaya tersebut juga menjadi bagian dari penerapan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
“Muhammadiyah memberi contoh nyata, bahkan menjadi KPI dari masjid-masjid Muhammadiyah untuk terus environmentally friendly dan sustainable untuk pembangunan, dan tentu untuk menjaga nilai-nilai yang sudah tertanam di Islam, kebersihan itu sebagian dari iman,” ujar Sayuti.
Kolaborasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat upaya pemulihan lingkungan, khususnya menghadapi persoalan sampah yang semakin mengkhawatirkan.
Gerakan tobat ekologis pun diharapkan tidak berhenti sebatas seruan moral, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata. Mulai dari perubahan perilaku masyarakat, pengelolaan sampah yang berkelanjutan, penguatan tata kelola lingkungan, hingga penegakan hukum.
Dengan keterlibatan pemerintah, organisasi keagamaan, dunia usaha, dan masyarakat, upaya menjaga kelestarian lingkungan diharapkan menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.









