TVRINews, Yogyakarta
Produk batik karya perajin difabel asal Kabupaten Kulon Progo menjadi salah satu daya tarik dalam INACRAFT Festival 2026 yang berlangsung di Jogja Expo Center (JEC), Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Berbagai produk kerajinan dipamerkan di Difable Zone, mulai dari busana batik, tas, dompet, hingga aksesori. Seluruh produk merupakan hasil karya para perajin difabel yang tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga telah menembus pasar ekspor.

Salah seorang perajin, Mulyani, mengatakan mulai menekuni dunia membatik setelah mengikuti pelatihan pada 2016. Menurutnya, membatik menjadi pilihan karena sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya sekaligus membuka peluang untuk lebih mandiri secara ekonomi.
"Saya mulai belajar membatik sejak mengikuti pelatihan pada 2016. Saya memilih membatik karena pekerjaan ini sesuai dengan kemampuan saya dan memberi kesempatan untuk terus berkarya," ujar Mulyani.
Ia menjelaskan, hasil kerajinan batik yang diproduksi bersama rekan-rekannya dipasarkan melalui berbagai saluran, baik secara langsung, daring, maupun melalui pameran. Sejumlah produk bahkan telah dipasarkan ke luar negeri.
"Produk kami dipasarkan secara online, offline, dan melalui berbagai pameran. Alhamdulillah, sebagian juga sudah dipasarkan ke luar negeri," katanya.
Pameran ini juga menarik perhatian wisatawan mancanegara. Anna dan Piotr, wisatawan asal Polandia, mengaku terkesan dengan kualitas dan keragaman produk kerajinan yang ditampilkan.
"Ini adalah kunjungan pertama kami ke Indonesia. Kami melihat banyak kerajinan tangan yang sangat menarik dan akhirnya membeli beberapa produk sebagai oleh-oleh," ujar mereka.
INACRAFT Festival 2026 dibuka oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Menurutnya, pameran tersebut menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan produk kerajinan Indonesia kepada pasar internasional sekaligus membuka peluang kerja sama bisnis bagi para pelaku usaha.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI), Muchsin Ridjan, mengatakan INACRAFT Festival dirancang sebagai wadah yang mempertemukan perajin, pelaku UMKM, desainer, pembeli, pemerintah, komunitas kreatif, akademisi, dan mitra industri dalam satu ekosistem.
"Kami berharap INACRAFT dapat terus menjadi platform yang memperkuat daya saing produk kerajinan Indonesia sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri," ujar Muchsin.
Melalui ajang ini, karya para perajin difabel diharapkan semakin dikenal masyarakat luas dan mampu memperluas akses pasar hingga ke tingkat internasional.










