TVRINews, Yogyakarta
Pemberlakuan kebijakan terkait kenaikan dan pembatasan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) mulai dirasakan para nelayan di Kabupaten Gunungkidul. Kenaikan harga BBM memberikan dampak signifikan terhadap meningkatnya biaya operasional yang harus dikeluarkan para nelayan.
Selain kenaikan harga BBM, nelayan yang sebelumnya cukup melaut beberapa mil dari garis pantai kini harus melaut hingga lebih dari empat mil ke tengah laut untuk mendapatkan hasil tangkapan ikan yang maksimal.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan BBM meningkat sekaligus memaksa para nelayan menggunakan mesin kapal dengan kapasitas lebih besar.
Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) DPD DIY, Sumarwanto Kartosuwiryo, menyebut nelayan di Yogyakarta sebenarnya sudah terbiasa menghadapi gelombang besar Laut Selatan dan memiliki daya tahan yang kuat. Namun, meningkatnya jumlah kapal dan kebutuhan melaut membuat nelayan kini memerlukan mesin berkapasitas lebih besar.
"Kalau dulu rata-rata menggunakan mesin 15 PK, sekarang banyak nelayan sudah beralih menggunakan mesin 30 PK dengan kebutuhan konsumsi BBM yang lebih tinggi," ujarnya, Selasa, 12 Mei 2026.
Meski demikian, aktivitas melaut di Gunungkidul hingga saat ini masih berjalan normal karena hasil tangkapan ikan dinilai masih memberikan keuntungan bagi para nelayan.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, mengatakan dampak kenaikan BBM tidak hanya dirasakan nelayan, tetapi juga pemerintah daerah, petani, hingga pelaku usaha menengah lainnya.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul bahkan mengaku stok anggaran BBM untuk operasional mobil sampah dan mobil pemadam kebakaran diperkirakan hanya cukup hingga Juni mendatang.
"Bukan hanya pemerintah daerah, tetapi juga seluruh pelaku usaha terdampak, termasuk petani untuk kebutuhan diesel traktor maupun mesin kapal nelayan. Kami masih menunggu regulasi yang jelas karena aplikasi Pertamina untuk pembelian solar bagi nelayan saat ini masih diblokir. Kami sedang memperjuangkan pelaku UMKM yang terdampak kenaikan harga ini," kata Endah.
Di sisi lain, akses mendapatkan BBM juga masih menjadi keluhan para nelayan. Pembelian solar melalui aplikasi Pertamina dinilai masih menyulitkan, terutama bagi nelayan kecil dan pelaku usaha pesisir.
Nelayan dan pemerintah daerah berharap ke depan segera ada kebijakan yang lebih meringankan dan tidak membebani para nelayan, sehingga keresahan yang saat ini dirasakan dapat segera teratasi.










