TVRINews, Gunungkidul
Bantuan sebanyak 411 tangki air disalurkan Lazismu Cabang Berbah, Kabupaten Sleman, ke wilayah yang mengalami kesulitan air bersih di Gunungkidul. Air hasil donasi warga ini didistribusikan ke dua wilayah yang mengalami krisis air, yaitu Kapanewon Tepus dan Tanjungsari, menggunakan belasan truk tangki air berkapasitas 5.000 liter.
Selain disalurkan langsung kepada warga, bantuan juga diberikan ke beberapa tempat ibadah, terutama di wilayah pedesaan dan terpencil.
Warga Padukuhan Pule Ngelo, Sidoharjo, Kapanewon Tepus, mengaku kondisi sulit air ini berlangsung sejak beberapa bulan terakhir.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari, warga yang sebagian besar berprofesi sebagai petani harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli air. Untuk kapasitas 5.000 liter air, warga harus membayar sebesar 130 ribu rupiah.
Air tersebut digunakan untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga, bahkan untuk minum hewan ternak.
Paino, salah seorang warga, mengatakan membeli air menjadi satu-satunya jalan yang banyak ditempuh warga, terutama di wilayah pedesaan yang belum sepenuhnya terjangkau jaringan pipa air PDAM.
“Kalau beli itu per tangki 130 ribu, untuk kebutuhan masak, minum, mencuci, dan memberi makan hewan,” ujarnya, Selasa, 15 September 2026.
Ketua Lazismu Berbah, Ardi Sahami, mengatakan pihaknya telah melakukan survei sebelum menyalurkan bantuan. Berdasarkan hasil survei dan informasi dari sejumlah tokoh masyarakat, wilayah Tepus dan Tanjungsari menjadi salah satu daerah yang membutuhkan bantuan air bersih.
“Kami sudah melakukan survei. Sebelum kami datang ke sini, kami sudah survei dan mendatangi beberapa tokoh masyarakat. Menurut informasi yang kami dapat, di Tepus dan Tanjungsari ini sangat membutuhkan,” katanya.
Ia menambahkan, bantuan serupa tidak menutup kemungkinan akan disalurkan ke wilayah lain yang mengalami kesulitan air bersih.
“Kalau memang nanti ada permintaan, kemungkinan kita juga akan membantu ke daerah lain,” tambanhnya.
Setiap tahun pada musim kemarau, warga di Kapanewon Tepus dan Tanjungsari selalu mengalami kekeringan dan kesulitan air bersih.
Mereka harus mengeluarkan biaya hingga ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah, untuk memenuhi kebutuhan air.
Selain membantu kebutuhan hidup warga yang membutuhkan, aksi sosial ini diharapkan semakin mempererat solidaritas, menumbuhkan rasa kepedulian sosial, gotong royong, dan kebersamaan antara warga dan lembaga di Yogyakarta.










