TVRINews, Yogyakarta
Upaya mewujudkan generasi emas bebas stunting terus digalakkan Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satunya melalui peluncuran aplikasi satu data E-Stunting yang digelar di Pendopo Parasamya, Kantor Bupati Sleman.
Peluncuran aplikasi tersebut dipimpin Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Sleman.
Aplikasi E-Stunting dirancang untuk mengintegrasikan data kesehatan anak dan keluarga berisiko stunting mulai dari tingkat padukuhan, kalurahan, hingga kabupaten. Melalui sistem ini, kader di lapangan dapat memantau status gizi balita secara real-time sekaligus meminimalkan tumpang tindih program intervensi.
Menurut Pemkab Sleman, akurasi dan keterpaduan data menjadi kunci dalam mempertahankan tren positif penurunan stunting di Bumi Sembada. Aplikasi ini juga menjadi wadah untuk menyatukan data kesehatan anak dan keluarga yang berisiko mengalami stunting secara lebih cepat dan terintegrasi.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengatakan, persoalan stunting di Sleman tidak semata-mata disebabkan oleh faktor kemiskinan maupun kekurangan gizi. Menurutnya, pola asuh anak menjadi salah satu faktor yang perlu mendapatkan perhatian lebih.
“Bukan karena miskin, bukan karena kurang gizi, tetapi karena pola asuh anak yang saat ini belum bisa dilakukan secara maksimal,” ujar Danang Maharsa.
Prevalensi stunting di Kabupaten Sleman terus menunjukkan tren positif. Pemerintah Kabupaten Sleman optimistis kehadiran aplikasi E-Stunting dapat semakin mempercepat upaya menuju Sleman Zero Stunting.
Platform digital ini diharapkan mampu memangkas jalur birokrasi dalam pelaporan dan pemantauan kasus. Dengan demikian, balita yang terindikasi mengalami masalah gizi dapat segera mendapatkan penanganan dan intervensi yang sesuai.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Dwi Anta Sudibya, menyebut penurunan prevalensi stunting sebesar 0,25 persen merupakan capaian yang signifikan, mengingat angka stunting di Sleman telah berada di bawah lima persen.
“Penurunan 0,25 itu sesuatu yang luar biasa karena sudah di bawah lima persen. Kalau angkanya masih di atas sepuluh persen, penurunannya mungkin bisa empat persen. Tetapi ketika angkanya sudah kecil, penurunan seperempat persen saja merupakan capaian yang luar biasa. Ini berkat kerja semua tim stunting yang sekretariatnya berada di TP2KB, dengan koordinasi yang baik,” ujar Dwi Anta Sudibya.
Selain untuk memantau tumbuh kembang anak, aplikasi E-Stunting juga dilengkapi fitur edukasi gizi bagi orang tua. Pemerintah Kabupaten Sleman berharap sinergi antara teknologi dan peran aktif
masyarakat dapat memperkuat upaya pencegahan dan penanganan stunting.
Melalui integrasi data dan pemanfaatan teknologi digital, Sleman pun diproyeksikan menjadi salah satu daerah percontohan dalam penanganan stunting berbasis digital di Daerah Istimewa Yogyakarta.










