TVRINews, Yogyakarta
Kabupaten Bantul tidak hanya dikenal dengan wisata pantai, alam, kuliner, dan desa wisata. Daerah ini juga memiliki destinasi edukatif yang menawarkan pengalaman berbeda, yakni Wisata Agro Kunjungan Industri Pabrik Gula (PG) Madukismo di Kapanewon Kasihan.
Di destinasi ini, pengunjung dapat menaiki kereta lori sambil melihat secara langsung proses produksi gula di salah satu pabrik gula yang masih beroperasi di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Daya tarik utama wisata agro PG Madukismo adalah perjalanan menggunakan kereta lori yang ditarik lokomotif buatan Jerman Timur. Lokomotif berusia lebih dari 70 tahun tersebut masih berfungsi dan kini dimanfaatkan sebagai sarana wisata di kawasan pabrik.
Kereta lori yang dahulu digunakan untuk mengangkut tebu telah dimodifikasi menjadi kereta wisata. Meski berjalan dengan kecepatan rendah, perjalanan menyusuri kawasan pabrik memberikan pengalaman berbeda sekaligus mengenalkan sejarah industri gula kepada pengunjung.
Selain menaiki kereta lori, wisatawan juga dapat melihat tahapan produksi gula, mulai dari tebu yang masuk ke mesin penggilingan, pengolahan nira, pembentukan kristal gula, hingga proses pengemasan sebelum didistribusikan.
Seksi Pengelola Wisata Agro PG Madukismo, Mahmud Syahfrudin, mengatakan kunjungan industri tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai panjangnya proses pengolahan tebu hingga menjadi gula.
“Sebagaimana cara melihat atau memproses tebu menjadi kristal gula, itu tujuan kami supaya pengunjung tahu bahwa membuat kristal gula tidak semudah yang dibayangkan. Selain itu, kami juga mengenalkan budaya kerja di perusahaan. Kunjungan industri ini memang didominasi oleh pelajar, baik siswa maupun mahasiswa,” ujar Mahmud Syahfrudin, Seksi Pengelola Wisata Agro PG Madukismo.
PG Madukismo saat ini memasuki musim giling tebu. Setiap hari, pabrik menargetkan penggilingan sekitar 350 ton tebu. Sementara itu, jumlah produksi gula bergantung pada tingkat rendemen, dengan target sekitar 250 ton gula atau setara 5.000 karung per hari.
Bagi pengunjung, wisata agro tersebut tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menambah wawasan mengenai industri gula yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat.
Salah seorang pengunjung, Elsa, mengaku mendapatkan pengalaman baru setelah melihat langsung proses produksi gula di PG Madukismo.
“Sekarang jadi tahu sumber bau yang selama ini muncul saat musim giling itu dari mana. Seru sekali, karena kita bisa melihat prosesnya sampai tahu gula itu nantinya didistribusikan ke mana. Keren banget,” ungkap Elsa, salah seorang pengunjung.
Untuk mengikuti paket Wisata Agro Kunjungan Industri, pengunjung dikenakan tarif Rp13.000 per orang. Paket tersebut mencakup perjalanan menggunakan kereta lori, tur proses produksi gula, serta kunjungan ke fasilitas produksi spiritus dan alkohol di lingkungan PG Madukismo.
Sebagian besar wisatawan yang datang merupakan rombongan pelajar dari berbagai daerah, baik dari Daerah Istimewa Yogyakarta maupun luar DIY. Wisata agro ini menjadi salah satu alternatif destinasi edukasi yang memadukan pengalaman wisata dengan pembelajaran mengenai proses industri gula.
PG Madukismo dibangun pada 1955 atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwono IX di atas bekas lokasi Pabrik Gula Padokan yang hancur akibat perang. Hingga kini, Madukismo tetap menjadi satu-satunya pabrik gula yang masih beroperasi di Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus menjadi bagian dari sejarah perkembangan industri gula di wilayah tersebut.










