TVRINews, Yogyakarta
Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta terus mendorong pengembangan wisata kesehatan atau health tourism sebagai salah satu produk pariwisata unggulan. Pengembangan dilakukan dengan memperkuat kolaborasi antara sektor kesehatan, pariwisata, rumah sakit, hingga pelaku industri perjalanan.
Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui kegiatan B2B Table Top Jogja Health Tourism 2026. Forum ini mempertemukan penyedia layanan kesehatan dengan pelaku usaha pariwisata untuk membuka peluang kerja sama dalam penyusunan dan pemasaran paket wisata kesehatan.
Dari sisi layanan kesehatan, kesiapan rumah sakit menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan wisatawan. Rumah sakit di DIY memiliki beragam layanan dan spesialisasi yang dapat menjadi daya tarik dalam pengembangan wisata medis.
Perwakilan Dinas Kesehatan DIY, dr. Fitri Indah Setiyawati, M.Sc., mengatakan saat ini terdapat delapan rumah sakit di DIY yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Empat di antaranya telah memiliki lisensi untuk penyelenggaraan wisata medis.
“Yang sudah memiliki lisensi untuk wisata medis ada empat rumah sakit, yakni RSUP Dr. Sardjito, Rumah Sakit Akademik, RS C.I.H., dan juga RS B2S,” ujar Fitri.
Menurut Fitri, pemerintah juga mendorong rumah sakit lain yang telah bergabung dalam ekosistem wisata medis agar segera memenuhi persyaratan dan memperoleh sertifikasi sebagai penyelenggara wisata medis.
Penguatan layanan kesehatan tersebut kemudian dipadukan dengan potensi pariwisata yang selama ini menjadi kekuatan DIY. Wisatawan yang datang untuk memperoleh layanan kesehatan diharapkan tidak hanya menjalani perawatan, tetapi juga dapat menikmati destinasi, kuliner, budaya, dan berbagai aktivitas wisata selama berada di Yogyakarta.
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIY, Dr. Ellya Shari, mengatakan wisata kesehatan memiliki peluang untuk memperluas pasar pariwisata sekaligus menghadirkan produk wisata dengan nilai tambah.
“Untuk health tourism ini sebenarnya sangat layak dan sangat bisa dijual. Mereka mempunyai berbagai keunggulan dalam pelayanan kepada pasien yang sangat potensial untuk ditawarkan dan dikerjasamakan dengan para agen,” kata Ellya.
Ia menilai keberadaan teknologi dan layanan kesehatan dengan keunggulan masing-masing dapat menjadi bagian dari paket wisata yang ditawarkan kepada calon wisatawan.
“Banyak juga peralatan yang dapat membantu proses pemulihan pasien menjadi lebih cepat,” lanjutnya.
Melalui penguatan kerja sama antara rumah sakit, pemerintah, agen perjalanan, dan pelaku industri pariwisata, Jogja Health Tourism diharapkan tidak hanya menjadi layanan wisata medis, tetapi berkembang sebagai ekosistem pariwisata yang terintegrasi.
Pengembangan tersebut sekaligus diharapkan mampu meningkatkan daya saing sektor pariwisata DIY serta menarik lebih banyak wisatawan yang membutuhkan layanan kesehatan berkualitas sekaligus ingin menikmati berbagai potensi wisata Yogyakarta.










