TVRINews, Yogyakarta
Pada masa tanam kedua tahun ini, mayoritas petani di Kabupaten Kulon Progo menanam padi. Selain kondisi cuaca yang mendukung, adanya peraturan pola tanam yang diterbitkan Pemkab Kulon Progo membuat para petani menanam padi secara serentak. Namun, kondisi tersebut bukan tanpa risiko, terlebih memasuki musim peralihan atau pancaroba seperti saat ini.
Regu Perlindungan Tanaman Kulon Progo, Chamim Tohari, mengatakan, pada musim pancaroba seperti saat ini, petani yang menanam padi harus mewaspadai serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), terutama serangan wereng batang cokelat, walang sangit, dan wereng punggung putih. Hama tersebut dapat menyerang tanaman padi mulai dari persemaian hingga menjelang panen.
Untuk mengantisipasi dan mengendalikan serangan OPT tersebut, petani dapat melakukan pencegahan dengan penyemprotan menggunakan agen hayati yang terdiri dari Beauveria bassiana, PGPR, Paenibacillus, dan molase. Penyemprotan dapat dilakukan hingga empat kali dan bergantung pada kondisi tanaman padi.

(Regu Perlindungan Tanaman Kulon Progo, Chamim Tohari. [Foto: TVRI Yogyakarta/Yudha Marutha])
“Untuk teman-teman tani semua di wilayah masing-masing, mari kita antisipasi, karena ini memasuki musim penghujan. Nanti banyak muncul ada beberapa OPT, yaitu yang pertama banyak muncul OPT WBC, wereng batang cokelat. Yang kedua ada WBP, lalu nanti ada jamur. Itu kan luar biasa munculnya di tanaman padi,” ujar Chamim.
Ia menambahkan, petani juga perlu mewaspadai serangan walang sangit yang dapat mengisap bulir padi sehingga menyebabkan gabah tidak terisi sempurna.
"Nanti jangan lupa, karena ini memasuki musim hujan juga, nanti banyak muncul walang sangit. Ini harus dikendalikan, karena kalau tidak dikendalikan bisa mengisap calon padi, jadinya padinya tidak berisi,” katanya.
Chamim Tohari menambahkan, selain mewaspadai serangan wereng dan walang sangit, pada musim pancaroba petani padi juga harus mewaspadai serangan hama tikus yang dapat menyerang batang bawah tanaman padi.










