TVRINews Yogyakarta
Taman Budaya Yogyakarta (TBY) akan menghadirkan pementasan bertajuk Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi yang menampilkan tiga koreografer dari kelompok usia berbeda. Ketiganya telah melalui proses kurasi dan mewakili generasi 20-an, 30-an, hingga 40-an tahun dengan karakter serta pendekatan gerak yang beragam.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga ruang pertemuan kreatif antar generasi. Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Seni Budaya TBY, Cerrya Wuri Waheni, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memperkuat ekosistem seni kontemporer di Yogyakarta sekaligus membuka ruang dialog antar pelaku seni.
Menurutnya, perbedaan pengalaman dan sudut pandang tiap generasi justru menjadi kekuatan dalam memperkaya karya. Ia menekankan bahwa seni bukan sekadar warisan, melainkan proses berkelanjutan yang terus tumbuh mengikuti zaman.
“Ekspresi seni kontemporer lintas generasi tahun ini mengangkat tari kontemporer dan merupakan penyelenggaraan tahun ketiga. Pada 2024 kami memfasilitasi empat koreografer, kemudian pada 2025 juga empat koreografer. Namun pada 2026 ini kami baru dapat memfasilitasi tiga koreografer,” ujar Cerrya
Sementara itu, kurator pertunjukan Bimo Wiwohatmo menyebut pementasan ini sebagai ruang eksplorasi gerak yang mempertemukan perspektif lintas generasi dalam satu panggung. Tiga koreografer yang terlibat yakni Widodo di generasi 40-an, Galih Puspita di generasi 30-an, dan Eka Lutfi Febriyanto di generasi 20-an.
Bimo menilai perkembangan tari kontemporer di Yogyakarta sangat dinamis, terutama dengan munculnya gagasan-gagasan baru dari generasi muda. Meski demikian, ia menegaskan bahwa perkembangan tersebut tetap berakar pada kontribusi para seniman terdahulu.
“Tari kontemporer di Jogja terasa sangat dinamis dan kaya gagasan, terutama dari generasi muda. Namun perkembangan ini tetap tidak bisa dilepaskan dari peran tokoh-tokoh sebelumnya,” kata Bimo.
Pementasan Ekspresi Seni Kontemporer Lintas Generasi dijadwalkan berlangsung pada Rabu malam, 20 Mei 2026, di Concert Hall TBY. Acara ini terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi wadah yang memperkuat keberlanjutan seni tari kontemporer di Indonesia.










