TVRINews, Yogyakarta
Enam belas tahun telah berlalu sejak erupsi dahsyat Gunung Merapi pada 2010. Namun, bagi warga Dusun Bronggang Suruh, Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, kenangan tentang bencana tersebut masih melekat hingga kini.
Salah satu saksi bisu peristiwa tersebut adalah sebuah rumah yang kini dikenal sebagai Rumah Ingatan. Bangunan ini berada hanya beberapa meter di sisi barat tanggul Sungai Gendol.
Rumah berukuran sekitar 7 x 11 meter tersebut merupakan milik almarhum Ponco Kadi, salah satu korban meninggal dunia dalam erupsi Gunung Merapi 2010. Sebanyak 47 korban lainnya juga meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.
Meski sebagian besar bangunannya telah hangus akibat terjangan erupsi, rumah tersebut masih menyimpan sejumlah benda bersejarah, di antaranya kerangka sepeda motor, mesin jahit, kitab suci Al-Qur'an, hingga ranjang tidur.
Benda-benda yang masih tersisa itu menjadi pengingat akan dahsyatnya awan panas atau wedhus gembel yang menerjang kawasan tersebut saat erupsi Merapi pada 2010. Keberadaan Rumah Ingatan tidak hanya menjadi tempat untuk mengenang para korban, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk memahami kembali sejarah dan dampak erupsi Merapi.
Warga setempat bahkan berencana mengembangkan lokasi tersebut menjadi museum yang mengabadikan kisah erupsi Merapi 2010, termasuk melalui dokumentasi foto dan benda-benda peninggalan warga yang menjadi korban.
“Termasuk nanti ada rencana untuk membuat museum, Pak. Jadi, museum Merapi, baik dari foto-foto kenangan warga kami yang pernah menjadi korban maupun bekas-bekas erupsi Merapi 2010,” ujar Sarbini, salah seorang warga, Senin, 26 Oktober 2026.
Kini, 16 tahun setelah bencana tersebut, Rumah Ingatan telah berkembang menjadi lokasi wisata edukasi. Tempat ini menjadi bagian dari upaya masyarakat untuk merawat ingatan kolektif sekaligus mengenalkan sejarah erupsi Merapi kepada generasi berikutnya.
Sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya menghidupkan kembali kawasan tersebut, Rumah Ingatan juga menjadi bagian dari kegiatan seni bertajuk Graffiti, Mural and Hip-Hop Beats in One.
Perpaduan antara sejarah kebencanaan dan ekspresi seni tersebut menjadi cara baru bagi masyarakat untuk menjaga ingatan tentang erupsi Merapi. Kawasan yang pernah terdampak bencana itu kini juga dimanfaatkan sebagai ruang edukasi dan kreativitas bagi masyarakat.










