TVRINews, Yogyakarta
Sebanyak 101 peleton mengikuti Lomba Baris-Berbaris Pelajar Kota Yogyakarta 2026 bersama Purna Paskibraka Indonesia Yogyakarta. Peserta berasal dari tingkat SD dan MI, SMP dan MTs, hingga SMA, SMK, dan MA. Dari 101 peleton tersebut, 15 di antaranya berasal dari SD/MI, 44 SMP/MTs, dan 42 dari SMA/SMK/MA.
Setiap peleton terdiri atas 39 siswa sehingga total peserta mencapai sekitar 3.500 pelajar. Keterlibatan pelajar SD dan MI dalam lomba baris-berbaris dinilai strategis untuk menanamkan nilai disiplin, sportivitas, kekompakan, dan jiwa kepemimpinan sejak usia dini.
Bagi penyelenggara, LBB bukan semata-mata soal siapa yang menjadi juara. Namun, lebih dari itu, proses yang dijalani para pelajar selama berlatih dan bertanding diharapkan mampu membentuk pribadi yang disiplin, tangguh, sportif, dan bertanggung jawab.
Nilai-nilai tersebut sekaligus menjadi bekal dalam proses pembinaan dan kaderisasi calon Paskibraka Kota Yogyakarta.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Yogyakarta, Agus Trimadi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendidikan karakter dan kepemimpinan bagi generasi muda.
“Ini juga menjadi bagian dari pendidikan karakter, pendidikan kepemimpinan di pelayanan kepemudaan di Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga,” kata Agus Trimadi, Rabu, 2 September 2026.
Agus menambahkan, jumlah peserta LBB terus meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut menunjukkan semakin tingginya minat sekolah untuk mengikuti kegiatan tersebut.
“Ini dari tahun ke tahun selalu bertambah pesertanya, sehingga ini menjadi daya tarik kepada sekolah-sekolah, baik negeri maupun swasta, dari tingkat SD sampai SMA/SMK,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan menilai baris-berbaris memiliki makna lebih dalam daripada sekadar gerakan fisik yang serempak.
Setiap gerakan mengajarkan peserta untuk mendengar, mematuhi aturan, mengendalikan diri, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Dengan semangat kekompakan, diharapkan nilai tersebut tidak berhenti saat lomba berakhir, tetapi terbawa hingga lingkungan sekolah dan kehidupan sehari-hari.
Wawan Harmawan mengatakan kegiatan tersebut menjadi sarana untuk menanamkan kedisiplinan, keteraturan, serta kecintaan terhadap tanah air.
“Ini sangat penting karena di samping lomba itu menyamakan gerak dan instruksi, ada makna di belakang itu, yaitu bagaimana kedisiplinan, keteraturan, dan juga cinta tanah air. Itu yang lebih kita utamakan. Jadi, harapan kami, setelah lomba, mereka tetap terbawa dalam kehidupan sehari-hari maupun di kelasnya, sehingga menjadi role model bagi teman-temannya,” ujar Wawan Harmawan.
Melalui lomba baris-berbaris, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap lahir generasi muda yang tidak hanya terampil dan berprestasi, tetapi juga memiliki karakter kuat, rasa percaya diri, tanggung jawab, dan jiwa kepemimpinan.









