TVRINews, Yogyakarta
Kemarau panjang akibat El Nino saat ini memperparah akumulasi polutan di udara. Proses pembakaran hutan menghasilkan gas iritan dan partikel halus PM2,5 yang dengan mudah terhirup ke dalam saluran pernapasan.
Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara (RSPAU) dr. S. Hardjolukito, dr. Christian Febriandri, mengatakan kondisi tersebut menjadi ancaman serius dalam jangka panjang, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.
Ia menjelaskan, paparan polusi sejak usia dini secara terus-menerus dapat menghambat perkembangan fungsi paru-paru secara permanen. Selain memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), cuaca panas ekstrem juga meningkatkan risiko dehidrasi dan penurunan imunitas tubuh.

“Apa saja yang harus kita waspadai? Pertama, ada kelompok rentan yang akan lebih mudah terkena penyakit, yaitu usia lanjut, mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung, penyakit paru kronik, diabetes, serta pasien yang merokok, baik aktif maupun pasif. Gejala yang bisa terjadi selain penyakit pernapasan juga ada peningkatan risiko lain yang berhubungan dengan sanitasi, sehingga lebih sering mengalami diare. Kalau fokus ke pernapasan, gejalanya berupa batuk yang lebih sering, sesak napas, dan demam," kata dr. Christian, dikutip Kamis, 30 Juli 2026.
“Bagaimana mitigasinya? Misalnya saat ke luar ruangan, apabila kualitas udara kurang baik, sebaiknya menggunakan masker secara berkala," lanjutnya
dr. Christian menambahkan, bagi kelompok rentan disarankan untuk melakukan vaksinasi pencegahan, seperti vaksinasi influenza dan pneumonia, guna memberikan perlindungan ganda pada organ pernapasan.









