TVRINews, Yogyakarta
Memanfaatkan melimpahnya budidaya ikan lele di wilayah setempat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan inovasi pangan berupa abon lele sangrai.
Berbeda dengan abon pada umumnya yang diolah melalui proses penggorengan menggunakan minyak, abon lele sangrai dibuat tanpa menggunakan minyak goreng. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi alternatif pangan berbahan protein hewani sekaligus mendukung upaya pemenuhan gizi masyarakat dan pencegahan stunting.
Inovasi tersebut dikembangkan mahasiswa KKN-PPM UGM bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Pemilihan metode sangrai dilakukan untuk menghasilkan produk abon dengan proses pengolahan tanpa minyak goreng. Produk tersebut selanjutnya diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif makanan tambahan bagi masyarakat, termasuk anak-anak dan balita.
Abon lele yang diproduksi direncanakan didistribusikan melalui kader posyandu kepada sasaran program di Desa Tampo. Ke depan, inovasi tersebut diharapkan dapat dikembangkan di desa-desa lain untuk mendukung program pencegahan stunting yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Peserta KKN-PPM UGM, Doni Ananda Pangestu, mengatakan inovasi tersebut berawal dari pemetaan potensi dan permasalahan yang ada di Desa Tampo, yakni melimpahnya budidaya lele serta masih adanya persoalan stunting.
“Kita melihat potensi yang ada di desa memiliki budidaya lele yang cukup banyak dan ada permasalahan juga terkait stunting. Sehingga, kita menggabungkan dua hal tersebut menjadi satu program kerja, yaitu pembuatan inovasi produk pangan untuk pencegahan stunting yang berkolaborasi dengan Ibu KWT,” ujar Doni, Jumat, 4 September 2026.
Menurut Doni, lele dipilih sebagai bahan utama karena merupakan sumber protein hewani yang dapat diolah menjadi berbagai produk pangan.
“Untuk aneka produknya dari lele sendiri, kami mengusung abon lele sangrai. Jadi, kita mengurangi penggunaan minyak karena tujuannya untuk pencegahan stunting. Pencegahan stunting yang efektif dapat didukung dengan pemenuhan protein hewani. Sehingga, kita bisa memanfaatkan potensi tersebut untuk mengatasi permasalahan yang ada,” lanjutnya.
Inovasi abon lele sangrai mendapat respons positif dari warga setempat. Produk tersebut menjadi alternatif baru selain abon goreng yang selama ini telah dikembangkan warga melalui Kelompok Pengolah dan Pemasar Ikan (Poklahsar) Desa Tampo, Kecamatan Cluring, di bawah binaan Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi.
Pendiri Poklahsar Desa Tampo, Irma Yunita, mengapresiasi pendampingan mahasiswa KKN-PPM UGM yang menghadirkan inovasi pengolahan lele tersebut.
“Alhamdulillah ada teman-teman KKN dari UGM Jogja di sini. Mereka memberikan produk baru bagi kami, yaitu abon sangrai. Kalau produk kami yang lama menggunakan sistem goreng, digoreng memakai minyak. Kemudian anak-anak KKN membuat model sangrai. Kalau sangrai itu tanpa minyak,” kata Irma.
Irma menambahkan, inovasi tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai alternatif produk olahan lele, termasuk untuk konsumsi keluarga.
“Cocok untuk anak-anak, apalagi untuk balita. Di sini kan programnya Kabupaten Banyuwangi mencegah stunting. Dari abon lele yang sangrai itu, banyak anak-anak balita yang suka,” ujarnya.
Selain abon lele sangrai, tim KKN-PPM UGM juga mengembangkan sejumlah produk turunan berbahan dasar lele, seperti cookies dan brownies.
Tidak hanya memanfaatkan daging ikan, mahasiswa juga mengolah limbah produksi, salah satunya tulang lele, menjadi pupuk organik cair (POC). Dengan demikian, bagian ikan yang dihasilkan dari proses produksi dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
Inovasi pengolahan lele tersebut diharapkan tidak hanya mendukung pemenuhan kebutuhan pangan bergizi masyarakat, tetapi juga membuka peluang pengembangan produk bernilai ekonomi dan memperkuat perekonomian warga di pedesaan Banyuwangi. ( 4 September 2026 )










