TVRINews, Sleman
Sistem beternak bebek petelur dengan metode kandang kering mulai diterapkan Kelompok Kandang yang dikelola Badan Usaha Milik Kalurahan (Bumkal) Ayodya Tuladha di Dusun Gangsiran, Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman.
Penerapan sistem kandang kering dilakukan untuk mengurangi penggunaan air di area pemeliharaan. Metode ini dinilai mampu menekan kelembapan kandang, mengurangi bau gas amonia, serta menurunkan risiko penyebaran penyakit pada ternak.
Kondisi kandang yang lebih bersih dan sehat berdampak langsung pada peningkatan produktivitas bebek petelur. Tingkat produksi telur bahkan mencapai lebih dari 80 persen karena lingkungan pemeliharaan mendukung kesehatan dan kenyamanan ternak.
Untuk kebutuhan pakan, setiap ekor bebek mengonsumsi sekitar 120 gram pakan per hari. Dengan kapasitas satu petak kandang berisi 100 ekor bebek, kebutuhan pakan mencapai sekitar 12 kilogram per hari.
Direktur Bumkal Ayodya Tuladha, Nanang Roy Indriyanto, menyampaikan optimisme terhadap prospek usaha bebek petelur di wilayah tersebut. Ia menilai peluang pasar semakin terbuka, terutama dengan hadirnya program pemenuhan gizi di sekitar lokasi.
“Insyaallah, prediksi kami ke depan prospeknya jauh lebih baik dibandingkan ayam petelur. Salah satu alasannya, ada pembangunan SPPG di kampung sebelah yang nantinya kami harapkan menjadi salah satu pasar utama untuk telur bebek. Selain itu, kami juga terus memberdayakan pelaku UMKM di lingkungan sekitar. SPPG ini masih dalam tahap pembangunan, dan nantinya diperkirakan membutuhkan pasokan sekitar 600 butir telur bebek setiap minggu,” ujar Nanang, Jumat, 5 Juni 2026.
Tingginya potensi serapan telur bebek dari program pemenuhan gizi menjadi salah satu alasan peternak tetap bertahan di tengah penurunan harga pasar. Berbagai strategi dilakukan, mulai dari penguatan manajemen pemasaran hingga kerja sama dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas pasar dan menjaga keberlanjutan usaha.










