TVRINews, Gunungkidul
Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok atau sembako mengalami kenaikan pada September 2026. Kondisi tersebut turut memicu inflasi Gunungkidul yang tercatat sebesar 0,24 persen secara month to month.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul, komoditas beras menjadi salah satu jenis sembako yang tercatat memberikan andil dominan terhadap inflasi pada September.
Harga beras di pasaran mulai merangkak naik bersamaan dengan terjadinya kemarau. Tidak hanya beras, beberapa jenis sembako lainnya, seperti daging dan telur ayam ras, juga mengalami kenaikan harga sehingga menjadi komoditas yang turut menyumbang inflasi sebesar 0,24 persen pada September lalu.
Selain sejumlah komoditas sembako, sumbangan inflasi juga bersumber dari komoditas lain, khususnya aneka jenis cabai. Hampir semua jenis cabai, seperti cabai rawit merah, cabai hijau, hingga cabai merah, mengalami kenaikan harga mulai September lalu.
Kepala BPS Gunungkidul, Agus Hartanto, menyebut selama dua bulan terakhir, yaitu Agustus dan September, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi. Kelompok tersebut disusul pakaian dan alas kaki serta kesehatan.
Komoditas lain, seperti emas perhiasan dan berbagai jenis sayuran, di antaranya wortel, bawang merah, tomat, kentang, serta terong, menjadi penghambat terjadinya inflasi pada September. Kondisi tersebut didukung masih lancarnya pasokan komoditas yang masuk ke pasaran Gunungkidul.
Tingkat inflasi Gunungkidul pada September sebesar 0,24 persen menjadi yang terendah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Inflasi tertinggi secara month to month pada September tercatat di Kota Yogyakarta sebesar 0,28 persen, sedangkan tingkat inflasi Provinsi DIY sebesar 0,26 persen.
Agus Hartanto mengatakan, pengendalian harga komoditas yang tercatat dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) terus dilakukan melalui koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
“Seperti yang disampaikan oleh Dinas Perindag, mereka kan punya tim TPID, yang itu menjaga supaya harga-harga komoditas yang dicatat dalam IHK itu bisa terjaga kenaikan atau fluktuasi harganya,” ujar Agus Hartanto, dikutip Jumat, 2 Oktober 2026.
Menurut Agus, angka inflasi dalam beberapa bulan terakhir juga tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Angka ini secara bulan-bulan terakhir ini dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya lebih tinggi,” katanya.
Sementara itu, inflasi tahun ke tahun atau year on year (yoy) Gunungkidul yang diukur pada periode September 2026 terhadap September 2025 berada di angka 3,07 persen. Angka tersebut masih berada dalam rentang target inflasi pemerintah.










