TVRINews, Yogyakarta
Festival Rumi Day di Yogyakarta menjadi ruang apresiasi terhadap warisan pemikiran dan karya sastra filsuf sekaligus legenda sufi Jalaluddin Rumi. Pemikiran Rumi yang masyhur dikenal di berbagai belahan dunia banyak berbicara tentang cinta universal, kebangkitan spiritual, dan cinta kepada Ilahi.
Dalam Festival Rumi, sejumlah ekspresi seni diwujudkan melalui syair-syair ternama karya Rumi. Salah satunya lukisan kuda berwarna putih yang sedang berlari, terinspirasi dari kutipan syair Rumi tentang kehidupan yang tertulis, “Hati Anda tahu jalan yang benar, kejarlah dengan sepenuh hati.”
Kemudian, terdapat lukisan musim semi dengan bunga warna-warni yang bermekaran sebagai simbol kebangkitan spiritual dan cinta Ilahi, seperti yang tergambar dalam puisi-puisi Rumi.
Selanjutnya, lukisan berupa deburan ombak putih mengajarkan tentang gelombang dalam kesunyian Rumi yang ingin mengajak manusia untuk menyatu dengan cahaya Ilahi agar tidak terombang-ambing dalam kehidupan.
Untuk menambah pengetahuan tentang Rumi, para peserta yang hadir juga disajikan berbagai karya buku yang mengkaji beragam pemikiran Rumi.
Pada puncak acara, digelar ekspresi seni seperti tarian Sema yang identik dengan Rumi. Tarian berputar tersebut menjadi simbol doa yang bergerak, kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan musik spiritual dan pembacaan puisi inklusif lintas agama.
Salah seorang pengunjung, Wawan Arif Rahmat, mengatakan Rumi merupakan salah satu sufi besar yang pemikirannya banyak mengajarkan tentang cinta universal, baik cinta kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia.
“Maulana Jalaluddin Rumi ini kan sufi besar yang memang dari kajian-kajian yang ada, dari karya-karyanya itu kan dianggap, bahkan sebenarnya agamanya kan agama cinta. Tentu cinta universal, tentang Ilahiyah juga, tentang ke sesama. Jadi, acara ini tentu dimaksudkan untuk menyentuh nilai-nilai cinta itu,” katanya, dikutip Jumat, 2 Oktober 2026.
Sementara itu, Ustaz Fajar, salah seorang penari Sema, menjelaskan bahwa tarian tersebut menjadi bentuk ekspresi doa kepada Allah sekaligus ungkapan hubungan manusia dengan alam semesta.
“Saya pernah terlama antara satu jam sampai satu jam setengah tanpa henti. Ini kan bentuk ekspresi kita meminta pada Allah dan berbagi pada alam semesta,” ujarnya.
Pada ujungnya, Festival Rumi Day kembali menggugah masyarakat tentang pentingnya nilai-nilai dan nurani kemanusiaan yang terancam oleh keangkuhan, egoisme, dan hasrat kekuasaan. Ruang kolaborasi diharapkan dapat mewujudkan tatanan sosial yang harmonis dan berkeadilan.










